Bencana Tak Pernah Pilih Korban, Tapi Kita Bisa Memilih Peduli

Kauli (Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Serambi Mekkah)

Bencana alam selalu datang tak terduga dan tidak pernah memilih siapa yang akan menjadi korbannya. Ia datang tanpa mandang usia, ras, status sosial, maupun agama sekalipun. Dalam hitungan detik, rumah-rumah hancur hilang kemana, mata pencaharian hilang dalam sekejap, dan saat itulah tujuan dan harapan banyak orang runtuh. Di berbagai wilayah sumatera, bencana seperti banjir, longsor, dan gempa telah berulang kali menunjukkan bahwa manusia sering kali berada pada posisi paling rentan ketika alam murka.

Ironisnya, di tengah penderitaan para korban, sifat manusia justru berubah-ubah seperti sifat musiman. Manusia peduli saat bencana masih menjadi topik yang hangat untuk di bicarakan, lalu perlahan memudar seiring bergantinya isu. Padahal, bagi korban, bencana belum berhenti saat kamera dimatikan. Mereka masih berjuang membersihkan puing-puing dari sisa-sisa bencana, memulihkan trauma yang melanda, membangun kembali rumah, dan menata ulang kehidupan dari nol.

Kepedulian sejati bukan sekadar rasa iba, melainkan tindakan nyata. Mengirim bantuan, menjadi relawan, menyebarkan informasi yang benar, serta mendoakan korban adalah bentuk-bentuk sederhana namun bermakna. Selain itu, kepedulian juga berarti tidak mempolitisasi bencana, tidak menyebarkan hoaks, dan tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai alat untuk keuntungan pribadi.

Sisi lain, bencana sumatera juga mengingatkan bahwa masih banyak problem-problem yang belum terselesaikan. Kerusakan lingkungan, alih fungsi hutan, serta lemahnya penataan ruang memperparah dampak bencana. Dari konteks ini, memilih peduli berarti berani bersuara, mengkritisi kebijakan yang bobrok dan abai terhadap keselamatan rakyat, dan mendorong pemerintah mengevaluasi soal kebijakan yang ke depannya akan kembali merugikan masyarakat.

Media pun memegang peran penting dalam menumbuhkan kepedulian publik. Pemberitaan yang sesuai dengan kondisi dan berorientasi terhadap kemanusiaan akan membantu masyarakat memahami bencana secara jelas, sehingga kepedulian sosial akan terbentuk. Media seharusnya menjadi jembatan empati, bukan sekedar pengeras suara tragedi.

Pada akhirnya, kita memang tidak pernah bisa memilih kepada siapa bencana akan datang. Namun, kita bisa memilih tetap peduli terhadap para korban bencana di manapun. Kepedulian bentuk paling sederhana tapi paling bermakna. Melalui kepedulian itulah harapan mereka akan tumbuh kembali, mampu meningkatkan kepercayaan mereka terhadap takdir dengan kehadiran kita dan para korban merasa tidak berjuang sendirian.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT