Lhoksukon, JBA – Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Aceh Utara, Abi Ibnu Sakdan Tb, S.Sos.I., M.Pd menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya hujatan, cacian, dan komentar yang tidak beradab terhadap seorang ulama Aceh yang tengah menjelaskan hukum Islam secara tegas di hadapan masyarakat.
Menurutnya, perbedaan pendapat dalam memahami suatu persoalan agama adalah hal yang lumrah. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan akhlak, apalagi mendorong masyarakat untuk menyerang kehormatan ulama melalui media sosial maupun ruang publik lainnya.
“Ulama memiliki tanggung jawab moral dan agama untuk menyampaikan kebenaran sebagaimana yang dipahaminya berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan khazanah keilmuan Islam. Tugas ulama bukan menyenangkan semua pihak, tetapi menyampaikan ilmu dengan jujur dan amanah,” ujarnya.
Ia menegaskan ulama yang sedang dihujat tersebut bukan sosok yang lahir dari ruang kosong. Tapi merupakan figur yang telah lama mengabdikan hidupnya untuk mendidik umat, membina akhlak masyarakat, serta melahirkan banyak murid yang kini menjadi ulama, guru dayah, imam, dan tokoh agama di berbagai wilayah Aceh.
“Keberaniannya menyampaikan hukum secara tegas justru lahir dari konsistensi keilmuan dan tanggung jawab dakwah. Ketegasan itu bukan mencari kontroversi, melainkan bagian dari amanah ilmu yang beliau pegang selama ini,” lanjutnya.
Ketua HUDA Aceh Utara juga sangat menyayangkan adanya sebagian masyarakat yang tergesa-gesa menilai isi ceramah hanya dari potongan video atau narasi yang tidak utuh, kemudian larut dalam kemarahan dan ikut menghina.
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan lemahnya budaya tabayyun dan mulai lunturnya adab terhadap ahli ilmu.
Dalam Islam, kata dia, menjaga lisan terhadap ulama merupakan bagian dari menjaga kehormatan ilmu itu sendiri. Kritik boleh disampaikan, tetapi harus dengan cara yang santun, argumentatif, dan tidak merusak marwah orang yang telah berjasa membimbing umat.
Ia mengingatkan bahwa menghina, meremehkan, dan mencaci ulama bukan perkara ringan. Dampaknya mungkin tidak dirasakan secara langsung, tetapi bisa berpengaruh pada kehidupan seseorang secara perlahan.
“Akibatnya tidak selalu tampak seketika. Namun para ulama salaf telah banyak mengingatkan, meremehkan ahli ilmu dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan, kerasnya hati, sulit menerima nasihat, serta jauhnya seseorang dari cahaya ilmu,” katanya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat yang telah terlanjur terbawa emosi, menulis komentar kasar, menyebarkan ujaran kebencian, atau ikut menghujat agar segera melakukan introspeksi dan memperbaiki diri.
“Kita semua bisa khilaf. Jika ada yang terlanjur menghina, merendahkan, atau melampaui batas terhadap ulama, maka tidak ada jalan yang lebih baik selain segera bertobat kepada Allah SWT, menjaga lisan, dan memperbaiki adab dalam bermedia maupun bermasyarakat,” tegasnya.
Ia berharap polemik ini menjadi pelajaran bersama agar masyarakat Aceh tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, Aceh memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat, sehingga perbedaan pendapat seharusnya disikapi dengan kedewasaan, bukan dengan hujatan.
“Aceh dibangun oleh tradisi ilmu, dayah, dan ulama. Jangan sampai warisan besar ini terkikis hanya karena kita gagal menjaga adab ketika berbeda pendapat. Mari kembali kepada tabayyun, hormat kepada ulama, dan menjaga persatuan umat,” pungkasnya.




