11 Esai Terbaik Aceh Akan Berlaga di Tingkat Nasional Melalui Krida Duta Bahasa

Banda Aceh – Balai Bahasa Provinsi Aceh melalui program Krida Duta Bahasa 2026 menggelar Lokakarya Penulisan Esai bagi generasi muda sebagai upaya meningkatkan budaya literasi dan keterampilan menulis di kalangan pemuda Aceh. Kegiatan tahap ketiga tersebut berlangsung di Gedung Tekkomdik, Lampineung, Banda Aceh, Senin 15 Juni 2026.

Koordinator kegiatan Lokakarya Penulisan Esai, Syarifah Zurriyati, S.S., menjelaskan bahwa Krida Duta Bahasa merupakan program kebahasaan dan kesusastraan yang dijalankan oleh Ikatan Duta Bahasa di seluruh Indonesia di bawah koordinasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Balai dan Kantor Bahasa di setiap provinsi.

“Setiap tahun dilakukan pemilihan Duta Bahasa di tingkat provinsi dan nasional. Duta Bahasa terbaik dari masing-masing provinsi akan mengikuti seleksi tingkat nasional untuk menentukan Duta Bahasa Nasional,” ujar Syarifah.

Ia menjelaskan, tema dan bentuk kegiatan Krida Duta Bahasa berbeda setiap tahun. Pada 2026, Balai Bahasa Aceh memilih lokakarya penulisan esai sebagai wadah pengembangan literasi bagi generasi muda berusia 18 hingga 30 tahun.

Untuk Provinsi Aceh, kegiatan ini menargetkan sebanyak 580 peserta yang dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama berlangsung di Lhokseumawe dengan melibatkan 200 peserta, tahap kedua di Aula FKIP Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh dengan 190 peserta, dan tahap ketiga di Gedung Tekkomdik Banda Aceh yang juga diikuti 190 peserta.

“Setelah menerima materi dari narasumber, peserta akan diminta menulis esai. Seluruh karya yang terkumpul akan dinilai, kemudian 11 esai terbaik dari Aceh akan dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat nasional,” katanya.

Menurut Syarifah, seluruh provinsi di Indonesia juga akan mengirimkan 11 esai terbaik untuk dinilai kembali di tingkat nasional. Dari hasil seleksi tersebut, sebanyak 50 esai terbaik akan diterbitkan dalam laman Buku Digital (Budi) milik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Selain dimuat dalam buku digital, lima esai terbaik tingkat nasional juga akan mendapatkan penghargaan berupa hadiah uang tunai jutaan rupiah,” tambahnya.

Hingga saat ini, dari dua tahap pelaksanaan sebelumnya telah terpilih empat esai terbaik. Sementara tujuh karya lainnya akan ditentukan dari hasil penilaian tahap berikutnya sehingga total 11 esai terbaik dapat dikirim mewakili Aceh ke tingkat nasional.

Peserta kegiatan berasal dari kalangan mahasiswa dan komunitas literasi. Pada tahap sebelumnya, peserta merupakan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Lhokseumawe, termasuk Universitas Islam Negeri, Universitas Malikussaleh, Poltekkes, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.

Syarifah menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan karya untuk lomba, melainkan mendorong peningkatan kualitas literasi generasi muda Aceh.

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang disampaikan Kepala Balai Bahasa Aceh, capaian literasi di Aceh masih perlu mendapat perhatian serius. Nilai kompetensi Bahasa Indonesia di Aceh masih berada pada peringkat 31 dari 37 provinsi di Indonesia.

“Kita masih berada di bawah rata-rata nasional. Padahal potensi generasi muda Aceh sangat besar. Banyak yang memiliki kemampuan literasi tinggi, namun jumlah yang masih rendah juga cukup banyak sehingga memengaruhi rata-rata capaian daerah,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Balai Bahasa Aceh berharap kemampuan menulis dan publikasi karya generasi muda semakin meningkat. Selain itu, program tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kemampuan berbahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing sebagai bagian dari penguatan kompetensi kebahasaan generasi muda Aceh.

“Semoga setelah mengikuti kegiatan ini, peserta semakin terampil menulis, lebih aktif menghasilkan karya, dan terus mengembangkan kemampuan literasinya,” tutup Syarifah.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT