Banda Aceh, JBA – Masih talenta muda Indonesia khususnya di Aceh masih memilih bertahan di zona nyaman dengan pekerjaan di dalam negeri, meskipun pendapatan yang diperoleh relatif terbatas. Di sisi lain, banyak pula yang belum berani mencoba peluang global karena merasa belum memiliki kompetensi yang memadai atau khawatir tidak akan diterima oleh perusahaan internasional.
“Dunia kerja telah berubah. Perusahaan global kini tidak lagi hanya melihat asal negara atau gelar akademik seseorang, tetapi lebih menilai keterampilan, portofolio, kemampuan komunikasi, dan kesiapan bekerja secara profesional,” ujar Teuku Farhan, salah seorang pemateri Komunitas 2DIGIT Academy dalam Global Talent Training yang diselenggarakan secara swadaya sesama anggota komunitas.
Dalam sesi pelatihan, peserta diajak memahami empat fondasi utama untuk menembus pasar kerja global. Pertama, memahami lanskap tren industri dan kebutuhan tenaga kerja internasional. Kedua, mengidentifikasi kesenjangan kompetensi (skills gap) agar mampu memenuhi standar perusahaan global. Ketiga, memahami pergeseran paradigma dari sekadar mengandalkan gelar akademik menuju pembangunan portofolio nyata yang dapat dibuktikan. Keempat, membangun personal branding melalui LinkedIn dan media sosial profesional agar lebih mudah ditemukan oleh perekrut internasional.
Portofolio Lebih Bernilai dibanding Ijazah
Pemateri juga menyampaikan dalam karir global, portfolio nilainya jauh lebih besar dibanding gelar atau ijazah. Portfolio yang terukur dengan bukti dan data sangai disukai perekrut global. Materi tersebut menjadi pengingat bahwa peluang kerja global semakin terbuka, terutama dengan berkembangnya sistem kerja jarak jauh (remote working). Namun, peluang itu hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang mau terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan membangun portofolio yang relevan.
Tantangan terbesar saat ini bukan semata-mata kemampuan bahasa Inggris atau keterampilan teknis, melainkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan mulai bersaing di tingkat internasional.
“Melalui program beasiswa pelatihan ini, kami berharap semakin banyak generasi muda Aceh berani mempersiapkan diri menjadi talenta global yang mampu memperoleh karier dengan standar internasional baik menjadi ekspatriat atau kerja jarak jauh tanpa harus meninggalkan tanah air.” ujar Junaidi selaku panitia dan Alumni 2Digit Academy.
“Dalam sesi pelatihan ini, saya baru terbuka wawasan tentang pasar kerja global sangat berbeda dengan Indonesia, karir global bukan lagi milik mereka yang memiliki gelar paling tinggi, tetapi milik mereka yang memiliki kompetensi, portofolio, dan keberanian untuk mengambil peluang,” Terang Ika, salah seorang peserta yang berprofesi sebagai guru. (*)




