Banda Aceh, JBA – Ratusan santri duduk rapi menyimak, bukan pelajaran kitab kuning, melainkan pesan kesehatan yang dekat dengan kehidupan remaja. Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Aceh menggelar program Apoteker Goes to School di Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif, Lam Ateuk, Aceh Besar, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini mengusung tema sosialisasi pencegahan HIV/AIDS.
Sebanyak 500 santri putra hadir dalam kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Pekan Ilmiah 2026 PD IAI Aceh tersebut. Acara dibuka dengan sambutan perwakilan IAI, Apt. Tedi Kurniawan, dan perwakilan pesantren, Tgk. Zulkarnaini Perlak. Kedua pihak kemudian menandatangani komitmen bersama untuk menjaga generasi muda Aceh dari bahaya HIV/AIDS dan penyalahgunaan obat.
“Apoteker tidak hanya bekerja di balik meja apotek. Kami ingin hadir di tengah masyarakat, termasuk di pesantren, karena santri adalah generasi yang akan memimpin Aceh ke depan,” ujar Apt. Tedi Kurniawan dalam sambutannya.
Bicara Terbuka, Tanpa Stigma
Materi inti, Pencegahan dan Penanggulangan HIV pada Remaja di Aceh, disampaikan M. Jamil, SKM, M.Kes. Ia menekankan bahwa pengetahuan yang benar adalah benteng pertama.
“HIV tidak menular lewat bersalaman, berpelukan, atau makan bersama. Yang berbahaya bukan hanya virusnya, tetapi juga ketidaktahuan dan stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV,” jelasnya.
Ia mengingatkan santri tentang jalur penularan, yaitu hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, dan penularan dari ibu ke anak. Pencegahan, menurutnya, dimulai dari iman yang kuat, pergaulan yang sehat, serta menjauhi narkoba dan perilaku berisiko.
“Jaga diri, pilih teman dengan baik, dan jangan malu bertanya kepada orang yang tepat. Informasi yang benar menyelamatkan,” pesannya.
Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Para santri bertanya tentang cara penularan, mitos seputar HIV, hingga bagaimana bersikap kepada penderita.
Bijak Menggunakan Antibiotik
Usai ice breaking yang memecah suasana, apoteker Apt. Annas Reza membawakan materi Bijak Menggunakan Antibiotik. Ia mengingatkan bahwa antibiotik bukan obat untuk semua penyakit dan tidak boleh dibeli atau dihentikan sembarangan.
“Antibiotik hanya untuk infeksi bakteri, bukan untuk flu atau batuk pilek biasa. Kalau dipakai sembarangan, bakteri bisa kebal dan suatu hari obat ini tidak lagi ampuh,” ujarnya.
Ia mengimbau santri agar selalu bertanya kepada apoteker dan dokter, serta menghabiskan antibiotik sesuai anjuran.
Harapan dari Pimpinan Dayah
Pimpinan Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif, Abu Muhaffazh bin Muhammad bin Zamzami, yang akrab disapa Abu Cut, menyambut baik kegiatan ini.
“Kami berterima kasih kepada PD IAI Aceh. Ilmu agama dan ilmu kesehatan sejalan, sama-sama bertujuan menjaga jiwa dan keturunan.” tutur Abu Cut.
Beliau juga berharap kerja sama dengan PD IAI Aceh terus berlanjut dalam bentuk kegiatan edukasi kesehatan lainnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan oleh Apt. Nova Rahmatulliza, penyampaian kesan dari perwakilan santri dan pihak pesantren, serta penyerahan cinderamata untuk para santri.
Melalui Apoteker Goes to School, PD IAI Aceh berharap edukasi kesehatan yang tepat dapat sampai ke generasi muda sejak dini, dan pesantren menjadi mitra strategis dalam menjaga Aceh tetap sehat.




