Banda Aceh, JBA – Balai Bahasa Provinsi Aceh menobatkan Cut Bang Urvan dan Cici Lestari sebagai Duta Bahasa Provinsi Aceh Tahun 2026 pada Malam Finalis Raya Duta Bahasa Provinsi Aceh Tahun 2026, di Hotel Permatahati, Banda Aceh, Minggu malam, 16 Mei 2026.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan SS MHum mengatakan Balai Bahasa Provinsi Aceh merupakan UPT yang mengembangkan bahasa. Ada empat program utama yang diemban. Pertama Peningkatan Kecakapan Literasi, program ini fokus di bidang kebahasaan dan kesastraan.
“Salah satu aksi program pertama ini adalah pemilihan Duta Bahasa. Ini program prioritas pertama kami,” jelasnya saat sambutan pembukaan Malam Finalis Raya Duta Bahasa Provinsi Aceh Tahun 2026 dengan tema Memodernisasi Sastra, Merawat Bahasa Demi Meluluhkan Budaya, di Hotel Grand Permatahati, Banda Aceh, Minggu malam, 16 Mei 2026.
Kedua, sebut Muhammad Irsan, Penguatan Kedaulatan Bahasa Indonesia, bahwa ruang publik harus diisi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketiga, Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah, yaitu melindungi bahasa daerah dari ancaman kepunahan. Keempat Meng-internasionalkan Bahasa Indonesia, yaitu menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa diplomasi dan pengetahuan global.
“Untuk itu, kami perlu sinergi dengan berbagai elemen, terutama Ikatan Duta Bahasa (IKADUBAS) Aceh untuk melindungi bahasa dan sastra daerah,” katanya.
Muhammad Irsan menegaskan duta bahasa berperan sebagai motor penggerak dalam melaksanakan trigatra bangun bahasa, yaitu mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Ia menjelaskan pelaksanaan duta bahasa punya payung hukum untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia, seperti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan Republik.
“Undang-undang ini mengamanatkan untuk peningkatan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional,” pungkasnya.
Menurut Muhammad Irsan, pemilihan duta bahasa telah dijalankan 20 tahun, sejak 2006 hingga sekarang. Sebab duta bahasa punya peran strategis dalam membina, mengembangkan, serta melindungi bahasa dan sastra Indonesia serta bahasa dan sastra daerah.
Ia menyebutkan, tahun 2026 ada 100 peserta mendaftar, namun hanya 10 pasang masuk finalis dan tampil malam ini. Harapannya, pemilihan malam ini akan terpilih duta bahasa yang akan mewakili Aceh ke ajang Duta Bahasa Nasional pada Oktober 2026. Harapannya perwakilan Aceh bisa mendapatkan nomine nasional tahun ini. Silakan berkompetensi, berikan yang terbaik bagi pendidikan Aceh, khususnya di bidang kebahasaan dan kesastraan di Provinsi Aceh.
“Mudah-mudahan malam ini yang terpilih duta bahasa terbaik,” tutupnya.
Sementara Bunda Literasi Aceh yang diwakili Plh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syahrul SH mengatakan Bunda Literasi Aceh berharap duta bahasa dapat memotivasi generasi penerus Aceh, terutama para pemuda dalam melestarikan bahasa Indonesia, mencintai bahasa daerah, dan turut semangat belajar bahasa internasional.
“Semoga Duta Bahasa Provinsi Aceh bisa ikut jenjang nasional dan mendapatkan dukungan sepenuhnya dari masyarakat Aceh,” ujar Syahrul saat membuka Malam Finalis Raya Duta Bahasa Provinsi Aceh Tahun 2026.
Kedua finalis terbaik satu Duta Bahasa Provinsi Aceh 2026 adalah mahasiswa Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.




