Suku Alas, Permata Aceh yang Jarang Diceritakan

Sebagai putra asli Aceh Tenggara dari suku Alas, ada satu kisah yang jarang diceritakan, padahal ini bagian dari identitas yang tumbuh sejak kecil. Kalau ditanya soal budaya Aceh, kebanyakan orang akan langsung membayangkan rencong, tari Saman, atau Serambi Mekkah. Padahal, jauh di pedalaman Aceh Tenggara, ada satu suku dengan cerita dan tradisi yang tidak kalah menariknya: suku Alas. Nama daerahnya sendiri unik, yaitu Tanoh Alas, yang artinya kurang lebih “tanah yang terhampar seperti tikar”, karena letaknya yang membentang datar di antara Bukit Barisan.

Suku Alas sudah lama tinggal di sana, bahkan sebelum Belanda datang menjajah. Islam pun sudah masuk ke tanah ini sejak ratusan tahun lalu. Menariknya, masyarakat Alas punya cara hidup yang unik: adat dan agama berjalan berdampingan, tidak saling menyingkirkan. Ada ungkapan lama yang mereka pegang teguh, kurang lebih artinya: selama hidup, ikuti adat; setelah mati, ikuti hukum agama. Jadi buat mereka, menjaga tradisi leluhur dan menjalankan syariat itu bukan dua hal yang bertentangan.

Salah satu hal paling khas dari suku Alas adalah empat momen besar dalam hidup yang selalu dirayakan dengan adat istimewa: waktu bayi lahir, waktu anak dikhitan, waktu menikah, dan waktu seseorang meninggal dunia. Setiap momen itu ada upacaranya sendiri, lengkap dengan makna dan filosofi yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tradisi yang paling terkenal namanya Pemamanen, semacam acara besar yang melibatkan keluarga dari pihak ibu sebagai penanggung jawab utama.

Tapi yang paling bikin kagum dari suku Alas sebenarnya bukan cuma upacaranya, melainkan nilai gotong royongnya. Kalau ada yang baru menikah, keluarga besar ramai-ramai membantu, baik berupa modal usaha, perlengkapan rumah tangga, sampai perhiasan. Bahkan ada tradisi khusus untuk membantu guru atau tokoh masyarakat secara sukarela, tanpa berharap imbalan apa pun.

Bayangkan, di zaman sekarang yang serba individualis, ada budaya yang dari dulu sudah mengajarkan bahwa membantu sesama itu bukan pilihan, tapi kewajiban sosial.

Sayangnya, ada beberapa tradisi indah suku Alas yang kini nyaris punah dan tinggal cerita. Salah satunya adalah Tangis Dilo, sebuah tradisi meratap yang dulu selalu ada dalam prosesi pernikahan. Pengantin perempuan akan menangis di tengah malam di hadapan orang tuanya, bukan karena sedih, melainkan sebagai ungkapan rasa syukur, haru, dan penghormatan terakhir sebelum ia resmi berpindah tanggung jawab ke keluarga baru.

Ada juga tradisi Melagam, yaitu musik dan lantunan pengiring yang menemani jalannya upacara pernikahan maupun khitanan. Dulu, kedua tradisi ini menjadi jantung dari setiap perhelatan adat suku Alas. Kini, keduanya nyaris tidak terdengar lagi, tergantikan oleh suara speaker dan lagu dari memory card.

Selain itu, ada pula kain tenun adat suku Alas yang disebut Mesikhat, biasa dikenakan dalam acara-acara besar seperti pernikahan dan penyambutan tamu kehormatan. Setiap motif dan warnanya bukan sekadar hiasan, melainkan sarat filosofi: warna hitam melambangkan jiwa pejuang yang gigih menghadapi tantangan hidup, kuning menandakan kesuksesan, dan putih melambangkan kesucian.

Sayangnya, kain bermakna ini pun kini lebih sering hanya dipakai sebagai kostum seremonial tanpa banyak yang tahu cerita di baliknya, apalagi generasi muda yang tumbuh jauh dari kampung halaman.

Fenomena ini menyedihkan sekaligus jadi alarm bagi kita semua. Bukan cuma bahasa daerah yang perlahan ditinggalkan, tapi juga ritual, lantunan, dan bahkan makna di balik sehelai kain adat, ikut memudar bersama waktu. Padahal setiap elemen itu adalah warisan yang dulu dijaga dengan penuh kesungguhan oleh nenek moyang suku Alas selama ratusan tahun.

Untungnya, masih ada harapan. Tokoh-tokoh adat dan Majelis Adat Aceh di Aceh Tenggara terus berusaha menjaga agar tradisi ini tidak hilang begitu saja. Tapi usaha mereka saja tidak akan cukup kalau generasi muda tidak ikut peduli. Di sinilah pentingnya peran anak muda, khususnya yang paham dunia digital dan komunikasi, untuk mulai menceritakan ulang budaya seperti ini lewat media sosial, tulisan, atau konten-konten kreatif lainnya, supaya semakin banyak orang tahu bahwa Aceh itu bukan cuma satu wajah budaya, tapi mozaik dari banyak suku dan tradisi.

Perlu diakui secara jujur, apa yang dituliskan di sini adalah pemahaman berdasarkan apa yang didengar dan dipelajari selama ini sebagai bagian dari suku Alas. Bisa jadi ada detail adat atau istilah yang penyampaiannya sedikit berbeda dari pemahaman masyarakat di kampung lain, mengingat tradisi lisan memang kadang bervariasi dari satu daerah ke daerah lain di Tanoh Alas. Kalau ada yang lebih memahami dan ingin meluruskan, koreksi tentu akan diterima dengan senang hati.

Pada akhirnya, jangan sampai identitas yang sudah bertahan ratusan tahun ini hilang, bukan karena dijajah bangsa asing, tapi karena dilupakan oleh anak cucunya sendiri.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT