Ketika Bahasa Menjadi Tembok di Tengah Pertemanan Mahasiswa Aceh

Aceh selalu dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya. Kekayaan itu tidak hanya terlihat dari adat istiadat, pakaian tradisional, atau kulinernya, tetapi juga dari keberagaman bahasa yang dimiliki setiap daerah. Masyarakat di Banda Aceh, Pidie, Aceh Besar, Bireuen, Gayo, Simeulue, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Selatan, hingga wilayah lainnya memiliki bahasa atau dialek yang berbeda-beda. Keberagaman ini menjadi identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Aceh.

Di lingkungan kampus, keberagaman itu semakin terasa. Mahasiswa dari berbagai kabupaten dan kota datang dengan membawa budaya, kebiasaan, serta bahasa daerah masing-masing. Kampus menjadi tempat bertemunya orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saling mengenal. Mereka dipersatukan oleh tujuan yang sama, yaitu menuntut ilmu, membangun relasi, dan mempersiapkan masa depan.

Namun, di balik indahnya keberagaman tersebut, ada sebuah fenomena sederhana yang sering dianggap biasa, padahal tanpa disadari dapat memengaruhi hubungan sosial di antara mahasiswa. Fenomena itu adalah penggunaan bahasa daerah ketika berada dalam kelompok yang tidak semua anggotanya memahami bahasa tersebut.

Mungkin sebagian orang berpikir, “Itu hal yang wajar. Bukankah setiap orang bebas menggunakan bahasa daerahnya?” Tentu saja benar. Tidak ada yang salah dengan menggunakan bahasa ibu. Justru bahasa daerah adalah warisan budaya yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Akan tetapi, persoalannya menjadi berbeda ketika bahasa itu digunakan dalam situasi yang melibatkan orang lain yang sama sekali tidak memahaminya.

Saya pernah memperhatikan situasi seperti ini di lingkungan kampus. Tiga orang mahasiswa sedang duduk bersama setelah perkuliahan selesai. Dua di antaranya berasal dari daerah yang sama, sedangkan satu orang lagi berasal dari daerah yang berbeda. Awalnya mereka berbincang menggunakan bahasa Indonesia. Suasana terasa hangat dan semua ikut terlibat dalam percakapan.

Tidak lama kemudian, dua mahasiswa tersebut mulai berbicara menggunakan bahasa daerah mereka. Entah karena lebih nyaman atau karena memang sudah terbiasa sejak kecil. Percakapan berlangsung semakin seru. Mereka tertawa, saling menanggapi, bahkan sesekali menoleh ke arah teman mereka yang lain.

Sementara itu, mahasiswa yang tidak memahami bahasa tersebut hanya tersenyum kecil. Ia mencoba tetap terlihat santai, tetapi raut wajahnya menunjukkan kebingungan. Beberapa kali ia ingin ikut berbicara, namun mengurungkan niat karena tidak tahu apa yang sedang dibahas.

Di dalam pikirannya mulai muncul berbagai pertanyaan.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?”

“Kenapa mereka tertawa sambil melihat ke arahku?”

“Jangan-jangan mereka sedang membahas aku.”

Belum tentu dugaan itu benar. Bahkan kemungkinan besar tidak. Bisa saja mereka sedang membicarakan tugas kuliah, makanan favorit, cerita masa kecil, atau pengalaman lucu ketika pulang ke kampung halaman. Namun, ketika seseorang tidak memahami bahasa yang digunakan dalam sebuah percakapan, ruang kosong dalam pikirannya sering kali diisi oleh berbagai asumsi.

Di sinilah masalah itu sebenarnya bermula. Bukan karena ada niat untuk mengucilkan, melainkan karena komunikasi yang tidak dapat dipahami bersama sering kali melahirkan prasangka yang sebenarnya tidak perlu ada.

Fenomena seperti ini mungkin terdengar sepele. Bahkan sebagian orang menganggapnya tidak penting. Namun, jika terjadi berulang kali, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Seseorang yang terus-menerus merasa tidak memahami percakapan akan perlahan memilih diam. Ia mulai merasa bahwa kehadirannya tidak terlalu dibutuhkan dalam kelompok tersebut. Lama-kelamaan muncul rasa sungkan untuk bergabung, enggan memulai percakapan, bahkan merasa menjadi orang asing di tengah teman-temannya sendiri.

Padahal, masa-masa kuliah adalah waktu ketika seseorang sedang belajar membangun relasi. Kampus bukan hanya tempat memperoleh nilai akademik, tetapi juga ruang untuk belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, dan memperluas cara pandang. Sayangnya, hal-hal kecil seperti pilihan bahasa dalam percakapan terkadang justru menjadi penghalang yang tidak terlihat.

Saya percaya bahwa hampir setiap mahasiswa pernah berada di posisi ini. Mungkin bukan sebagai orang yang menggunakan bahasa daerah, melainkan sebagai orang yang hanya bisa mendengar tanpa memahami apa yang sedang dibicarakan. Rasanya seperti berada di tengah keramaian, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari keramaian itu.
Perasaan tersebut mungkin tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk membuat seseorang berpikir dua kali sebelum kembali bergabung dalam percakapan yang sama. Dari sinilah jarak antarteman mulai terbentuk, bukan karena adanya konflik, melainkan karena komunikasi yang tidak melibatkan semua orang.

Bahasa memang diciptakan untuk menyampaikan pesan. Akan tetapi, dalam kehidupan sosial, bahasa juga memiliki makna yang lebih dalam. Bahasa mampu menciptakan kedekatan, membangun rasa percaya, dan menghadirkan kenyamanan. Sebaliknya, bahasa juga dapat menjadi batas yang tidak terlihat ketika hanya dipahami oleh sebagian orang.

Ironisnya, tembok itu sering kali dibangun tanpa sengaja. Tidak ada niat untuk mengecualikan siapa pun. Tidak ada maksud untuk membuat orang lain merasa tersisih. Semua terjadi karena kebiasaan yang sudah melekat sejak kecil. Namun, niat yang baik belum tentu menghasilkan dampak yang baik apabila tidak disertai dengan kepekaan terhadap orang-orang di sekitar.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang memastikan bahwa pesan dapat dipahami bersama. Sebab, tujuan utama komunikasi bukan sekadar menyampaikan kata-kata, melainkan membangun hubungan yang membuat setiap orang merasa dihargai dan dilibatkan.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT