Banda Aceh – Prevalensi stunting di Provinsi Aceh masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Berdasarkan data terbaru di lapangan, angka stunting di Aceh tercatat sebesar 28,6 persen pada 2024, meski mengalami penurunan dari 33,2 persen pada 2021.Namun, capaian tersebut masih berada di atas standar yang ditetapkan World Health Organization (WHO), yakni 20 persen.
Ketua KNPS Provinsi Aceh, Tuanku Muhammad, menyebutkan bahwa tingginya angka stunting dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama. Di antaranya ialah kurangnya asupan gizi pada ibu hamil, seperti anemia dan kekurangan energi kronis (KEK), sanitasi lingkungan yang belum memadai, serta pola asuh anak yang masih perlu ditingkatkan.
“Permasalahan stunting tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan pendekatan komprehensif yang melibatkan banyak sektor,” ujar Tuanku Muhammad dalam keterangannya, Rabu 25 Februari 2026.
Ia menegaskan, kehadiran KNPS di Aceh merupakan bagian dari komitmen bersama untuk mendukung upaya pemerintah daerah dalam menekan angka stunting. KNPS mendorong kolaborasi aktif dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga elemen masyarakat melalui kemitraan dan sinergi program yang terukur serta tepat sasaran.
Lebih lanjut, Tuanku Muhammad menekankan pentingnya memastikan generasi Aceh ke depan memperoleh pemenuhan gizi yang cukup, kebutuhan dasar yang layak, serta edukasi yang baik. Dengan demikian, anak-anak Aceh dapat tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.
“Cita-cita menuju Indonesia zero stunting bisa kita mulai dari wilayah paling barat Indonesia, yaitu Aceh, sebagai langkah nyata menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.




