Pemandian Panjupian: Wisata dan Legenda Putri Naga

Tapaktuan — Airnya mengalir tenang, kejernihannya memantulkan angkasa, sementara pepohonan rindang menaungi aliran sungai yang seolah tak pernah tergerus peradaban. Itulah Panjupian, tempat pemandian yang tidak hanya menawarkan kesejukan, tetapi juga legenda yang terus hidup di tengah masyarakat.

Lokasinya berada di kaki pegunungan, sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Pemandian Panjupian menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat, terutama saat musim liburan. Akses menuju lokasi pun cukup mudah karena dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Anak-anak sedang menikmati liburan di Pemandian Panjupian, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu, 4 Juli 2026. Foto: Rengsa.

Saat ini, Pemandian Panjupian dikelola lebih baik sebagai destinasi wisata keluarga. Selain tetap mempertahankan pesona mata air alaminya, kawasan ini juga dilengkapi wahana bermain air untuk anak-anak serta kolam renang yang dapat dinikmati oleh orang dewasa.

Kehadiran fasilitas tersebut menjadikan Panjupian sebagai destinasi rekreasi air yang sederhana, tetapi tetap nyaman, menarik, dan ramah bagi seluruh anggota keluarga.

Setibanya di Panjupian, pengunjung langsung disambut gemericik air pegunungan yang menghadirkan suasana damai, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Di lokasi juga berdiri pondok-pondok sederhana milik warga, tempat roda perekonomian masyarakat turut berputar melalui aktivitas wisata.

Anak-anak sedang menikmati liburan di Pemandian Panjupian, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu, 4 Juli 2026. Foto: Rengsa.

Namun, pesona Panjupian tidak hanya terletak pada keindahan alamnya. Di balik jernihnya aliran air, tersimpan kisah yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat setempat meyakini sungai tersebut merupakan tempat pemandian Putri Naga, legenda yang hingga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Panjupian.

Konon, nama Panjupian berasal dari tempat sang putri mandi atau berjupian. Seiring waktu, sebutan itu melekat dan kemudian menjadi nama desa. Bagi masyarakat setempat, legenda Putri Naga bukan sekadar cerita biasa, melainkan warisan budaya yang terus dijaga sebagai bagian dari sejarah lokal.

Perpaduan keindahan alam dan cerita rakyat menjadikan Panjupian memiliki daya tarik tersendiri. Pengunjung tidak hanya menikmati sejuknya udara dan segarnya air pegunungan, tetapi juga diajak menyelami legenda yang berpadu dengan alam, sehingga menciptakan pengalaman wisata yang lebih berkesan dan bermakna.

Putri Nur Wahyuni, seorang pengunjung asal Banda Aceh, mengaku sengaja memilih Panjupian sebagai destinasi liburan bersama keluarga pada momen libur sekolah. Selain ingin menikmati suasana alam yang masih asri, ia juga tertarik melihat langsung lokasi yang selama ini dikenal melalui kisah Putri Naga.

“Kami memang sudah lama ingin ke Panjupian. Kebetulan, momen ini bertepatan dengan libur sekolah. Tiket masuknya juga sangat terjangkau, hanya Rp10 ribu per orang. Dengan harga itu, kami sudah bisa menikmati keindahan alam, berenang, sekaligus bersantai bersama keluarga. Tempatnya masih sangat alami dan udaranya sejuk,” ujar Putri sembari menemani anaknya berenang, Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurutnya, daya tarik utama Panjupian terletak pada keasrian alamnya yang masih terjaga. Mata air yang mengalir tanpa henti, udara pegunungan yang sejuk, serta hamparan hijau yang mengelilinginya menghadirkan ketenangan bagi setiap pengunjung.

Anak-anak sedang menikmati liburan di Pemandian Panjupian, Kabupaten Aceh Selatan, Sabtu, 4 Juli 2026. Foto: Rengsa.

Itulah sebabnya Panjupian tak pernah kehilangan pesonanya. Orang datang menikmati dinginnya air pegunungan, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar melepas penat.

Namun, saat pulang, mereka membawa lebih dari sekadar kenangan tentang pemandian alam. Mereka juga membawa kisah Putri Naga—legenda yang terus mengalir bersama jernihnya air Panjupian, mengingatkan bahwa setiap tempat indah selalu memiliki ceritanya tersendiri. Rgs.

Disclaimer: Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman penulis saat berkunjung ke Pemandian Panjupian serta hasil saduran dari beberapa sumber. Penulisannya bertujuan untuk turut mempromosikan potensi wisata yang ada di Aceh Selatan.

EditorRedaksi

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT