Fanatisme dan Matinya Objektivitas

Oleh: Jabbar, AMIPR.

Ruang diskusi itu awalnya terasa hangat. Pesertanya saling bertukar pendapat tentang suatu peristiwa. Masing-masing membawa data, pengalaman, dan sudut pandang. Namun, suasana perlahan berubah. Ketika satu fakta disampaikan, seseorang menolaknya. Bukan karena data itu keliru, tetapi karena tidak menguntungkan tokoh yang ia kagumi.

Dirinya menganggap kritik sebagai bentuk kebencian. Bukti dan fakta dipandang sebagai fitnah. Sejak saat itu, diskusi tidak lagi bertujuan mencari kebenaran, melainkan berubah menjadi arena keberpihakan. Begitulah salah satu gambaran suasana diskusi di sebuah aula sederhana yang pernah penulis ikuti pada 2022 silam.

Pemandangan seperti itu bukan lagi sesuatu yang langka. Fenomena tersebut kerap muncul dalam diskusi politik, organisasi, olahraga, agama, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah kita menemukan orang-orang yang lebih sibuk membela daripada memahami, lebih cepat menyalahkan daripada mendengarkan, dan lebih memilih mempertahankan keyakinan daripada menguji kebenaran. Pada titik itulah kita dapat melihat bagaimana fanatisme menyingkirkan objektivitas dan mengambil alih peran akal sehat.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan mengagumi seseorang, mencintai sebuah organisasi, mendukung suatu institusi, atau meyakini sebuah gagasan. Semua itu merupakan bentuk loyalitas yang wajar. Namun, ketika loyalitas berubah menjadi fanatisme, batas antara benar dan salah mulai kabur. Ukurannya bukan lagi fakta, melainkan siapa yang berbicara atau siapa yang melakukannya.

Fanatisme juga dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bersikap objektif. Kesalahan pihak yang didukung selalu dicari pembenarannya, sedangkan kesalahan pihak yang tidak disukai terus diperbesar. Kritik dipandang sebagai serangan, sementara pujian yang berlebihan dianggap sebagai bentuk kesetiaan. Dalam kondisi seperti ini, objektivitas perlahan memudar karena emosi telah mengambil alih ruang yang seharusnya diisi oleh nalar.

Bahayanya, fanatisme tidak hanya memengaruhi cara kita memandang peristiwa hari ini, tetapi juga cara kita memahami masa lalu. Ketika seseorang menulis sejarah dengan tujuan membela kelompoknya atau menjatuhkan kelompok lain, sejarah kehilangan fungsi utamanya sebagai rekaman kebenaran.

Fanatisme dapat berubah menjadi alat pembenaran. Fakta dipilih dan disusun sesuai kepentingan, sementara bagian yang tidak menguntungkan disembunyikan atau diabaikan. Akibatnya, generasi berikutnya tidak lagi mewarisi sejarah yang utuh, melainkan narasi yang dibangun di atas keberpihakan dan fanatisme yang berlebihan.

Semoga sejarah yang kita baca hari ini ditulis oleh orang-orang yang memiliki integritas intelektual, yakni mereka yang bersedia mengikuti ke mana fakta membawa, bukan memaksa fakta mengikuti keyakinannya. Sebab, pena yang digerakkan oleh fanatisme dapat membentuk cara berpikir suatu generasi ke arah yang keliru.

Kesimpulannya, fanatisme bukan hanya membutakan mata terhadap kesalahan pihak yang kita dukung, tetapi juga terhadap kebenaran itu sendiri. Ketika objektivitas mati, yang lahir bukan lagi pengetahuan, melainkan keyakinan yang dibangun di atas perasaan paling benar. Padahal, kemajuan peradaban selalu lahir dari manusia-manusia yang lebih mencintai kebenaran daripada keberpihakan.

EditorRedaksi

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT