IKAMAS Jogyakarta Bahas Pembenahan Pendidikan di Aceh Selatan Via Virtual

Yogyakarta, Jaringanberitaaceh.com – Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Aceh Selatan (IKAMAS) di Yogyakarta telah melaksanakan kegiatan diskusi virtual yang mengangkat tema “Pendidikan di Aceh Selatan dalam Pandangan Anak Muda”. Diskusi ini diselenggarakan menggunakan platform zoom meeting pada rabu malam, 25 Mei 2022.

Septian Fatianda selaku Ketua IKAMAS dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini bentuk tanggung jawab dan keprihatinan mahasiswa terhadap nasib pendidikan yang masih belum move on kearah kemajuan. “kami berharap melalui diskusi ini dapat lahir ide-ide kritis dan efektif sehingga dapat menjadi salah satu dasar bagi pengembangan dunia pendidikan”.

Acara ini diisi oleh empat orang narasumber yaitu dari Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Selatan, Mahlianurrahman sebagai penggerak pendidikan, Zulfata sebagai pengamat pendidikan, hingga Darlis Aziz selaku mahasiswa Aceh yang sedang menempuh studi di Turki.

Dalam diskusi tersebut Akmal selaku Plt Kadisdik menyampaikan apresiasinya terhadap IKAMAS Jogja karena telah memfasilitasi diskusi mengenai pendidikan daerah. Ia juga menyadari masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam penyelenggaran pendidikan dan mengajak mahasiswa dan anak muda untuk bersama memberikan sumbangan idenya untuk kemajuan Aceh Selatan khususnya dari sektor pendidikan.

Hal senada juga diutarakan oleh Mahlianurrahman, pendidikan di Aceh Selatan sejati sudah tergolong baik, terutama sekali di tingkat sekolah. Maksudnya, tidak sedikit di antara siswa dan pelajar yang meraih berbagai prestasi maupun melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Pembahasan pertama ini, sedikitnya memang lebih fokus pada sektor keguruan dan sekolah dari tingkat dasar hingga menengah. Kendati demikian, punggawa Bintang Sekorong tidak pula menampik bahwa masih banyak aspek pendidikan yang belum maksimal, sebut saja tenaga pengajar, akses, hingga fasilitas di sekolah-sekolah terpencil

Narasumber ketiga menyoroti permasalahan yang terjadi pada penyelenggaraan pendidikan di Aceh Selatan. Ia menegaskan bahwa pendidikan di Aceh Selatan tidaklah dalam keadaan baik-baik saja. Pendidikan tidak hanya dapat dilihat pada sektor-sektor formal seperti sekolah maupun perguruan tinggi, melainkan juga pada kegiatan-kegiatan positif di luar ruangan. Baginya, membangun pendidikan harus dilandasi motif keikhlasan, hobi, serta untuk membangun daerah, dan terpenting, tidak diselubungi motif politik. Dalam hal ini, ia menyarankan semua pihak (pemerintah, akademisi, pegiat, guru, dan lainnya) untuk saling membahu memaksimalkan pendidikan di Aceh Selatan, di mana hasilnya tentu tidak akan nampak sekejap mata. “Dampaknya itu bukan sekarang. Nanti, sepuluh puluh tahun kedepan” tegasnya.

Terakhir, Darlis Aziz selaku mahasiswa Aceh Selatan di Turki ikut memberikan pandangan mengenail persoalan pendidikan. Menurutnya kemajuan pendidikan di satu daerah sangat ditentukan oleh sistem yang kritis dan kreatif dan hal ini belum sepenuhnya ada dalam wajah pendidikan di Aceh Selatan. Berkaca dari model pendidikan di Turki, Darlis menyebut bahwa peranan pemerintah sangat penting dalam mendukung para mahasiswanya yang sedang studi di luar. Pemerintah harus bisa menganggarkan dana yang ideal untuk mendukung seperti menyediakan asrama dengan fasilitas yang lengkap. Hal ini agar dapat melahirkan SDM yang unggul yang nantinya dapat berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Dari hasil diskusi ini sangat diharapkan pemerintah melalui Dinas Pendidikan mau mendengar dan menampung ide dan gagasan anak muda untuk dieksekusi sehingga pendidikan di Aceh Selatan dapat berkembang kedepannya.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT