MPA Gelar FGD, Bung Syarif Tawarkan 7 Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Dayah




Banda Aceh, Jaringanberitaaceh.com – Majelis Pendidikan Aceh (MPA) melaksanakan Focus Group Diskussion (FGD) II, dengan tema Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dayah di Aceh, Rabu 14 Desember 2022, di Hotel Grand Permata Hati, Blang Oi Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Kegiatan diikuti unsur Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Dinas Syariat Islam Aceh, Kanwil Kementrian Agama Aceh, Kepala Biro Isra Aceh, Dayah Ule Titie Aceh Besar, Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh, Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Aceh Besar, Dayah Thalibul Huda, Aceh Besar, Dayah Darul Ulum Banda Aceh, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Kegurian UIN Ar-Raniry, Dekan FKIP USK, Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Banda Aceh, Ketua MPD Aceh Besar, Prof Dr Abdi Wahab, Ir T Said Mustafa, Dr Anas M Adam, Prof Eka Srimulyani, Prof Dr Rusli Yusuf, Kepala Sekretariat MPA dan Kepala Bagian Perencanaan dan Pelaporan, ungkap Dr Ajidar MA yang bertindak sebagai pemandu acara FGD in

“Kegiatan ini untuk menjaring masukan berbagai stakeholders dalam memformulasikan kebijakan yang nantinya disampaikan kepada Pj Gubernur Aceh, sebagai pendukung formulasi kebijakan peningkatan dayah,” ungkap alumni Mesir ini.

Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Banda Aceh, Muhammad Syarif SHI mengatakan upaya peningkatan mutu tendik dayah salafiyah harus punya pandangan yang utuh tentang pakem dayah, sehingga pengambil kebijakan tidak salah dalam memformulasikan kebijaknnya.

“Ada enam manhaj dayah salafiyah Aceh yang kini berkembang, di antaranya Al Waliyah, Al Aziziyah, Al Amiriyah, Istiqamatuddin, Al Fata, Al Munawwarah. Masing-masing manhaj ini punya tradisi budaya akademik dan kultur sosiologis yang berbeda,” jelas Muhammad Syarif saat isi materi.

Menueut dosen FSH UIN Ar-Raniry ini, dalam konteks perbaikan mutu tenaga kependidikan dayah salafiyah, pendekatan total qualiti manajemen (TQM) menjadi penting dilaksanakan. Pertama menyamakan komitmen mutu oleh pengasuh dayah, para usatz dan ustadzah yang terlibat. Kedua mengupayakan program peningkatan mutu dengan berbagai pelatihan teknis sesuai kebutuhan dayah. Ketiga meningkatkan pelayanan administrasi. Keempat menciptakan kepemimpinan dayah yang efektif. Kelima menetapkan standar mutu kelulusan dayah. Keenam membangun jaringan kerja sama (mitra bestari). Ketujuh mewujudkan tata kelola dayah yang transparan, akuntabel, dan terakhir membangun iklim dayah yang kondusif.

Pria yang akrap disapa Bung Syarif ini mengatakan perlu membangun konsep dayah bersaudara, sehingga ada pertukaran guru dayah lintas manhaj untuk memperkaya khazahan budaya akademik dan kultur sosiologis dilingkungan dayah Salafiyah (tradisiona), menyusun bugzeting guru dayah dan non guru dayah, menyusun indek profesionalisme guru dayah, menjadi pedoman dalam pembinaan tendik dayah salafiyah.

Sementara pemateri kedua, dosen FKIP USK, Dr Sofyan MPd lebih menyoroti pemenuhan sapras dayah modern yang sejatinya belum mencerminkan kemoderannya. Sofyan menyebutkan perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap penerapan standar delapan dengan melibatkan pihak-pihak berkopenten.

spot_img
spot_img
spot_img

TERBARU

spot_img
spot_img

BERITA TERHANGAT

BERITA MINGGUAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT