Habituasi Ekoteologi Didorong Menjadi Budaya Kerja, BDK Provinsi Aceh Ikuti Sharing Asesmen/Audit Program Ekoteologi

Jantho, JBA — Balai Diklat Keagamaan (BDK) Provinsi Aceh mengikuti Zoom Meeting Sharing Pelaksanaan Asesmen Audit Program Ekoteologi sebagai langkah awal memperkuat pemahaman terhadap implementasi program prioritas Kementerian Agama yang berorientasi pada pembentukan budaya kerja ramah lingkungan. Kegiatan tersebut diikuti Kasubbag Tata Usaha, Zulkifli, bersama seluruh Ketua Tim Kerja di lingkungan BDK Provinsi Aceh, Rabu (5/8/2026).

Sharing asesmen ini menjadi tahapan awal sebelum pelaksanaan audit ekoteologi di lingkungan Balai Diklat Keagamaan (BDK) dan Loka. Melalui kegiatan tersebut, setiap satuan kerja didorong memahami metode pemetaan kondisi aktual lingkungan kerja sebagai dasar penyusunan langkah perbaikan dan pembiasaan perilaku yang berkelanjutan.

Pendekatan yang dibangun dalam program ini menempatkan habituasi ekoteologis bukan sekadar sebagai rangkaian kegiatan, tetapi sebagai proses membentuk budaya kerja aparatur. Kesadaran menjaga lingkungan diharapkan tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten hingga menjadi bagian dari karakter organisasi.

Dalam sesi pemaparan, setiap BDK dan Loka diperkenalkan pada Pilar Ta’amur yang memotret kondisi riil lingkungan kerja melalui pengamatan terhadap penggunaan air, listrik, kertas, pengelolaan sampah, ruang hijau, masjid, kantin, dan area parkir. Asesmen tersebut menjadi instrumen untuk mengidentifikasi area yang masih memerlukan perbaikan sekaligus menyusun rekomendasi tindak lanjut yang sesuai dengan kondisi masing-masing satuan kerja.

Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Keagamaan, Mastuki, menegaskan bahwa habituasi ekoteologis merupakan proses perubahan yang memerlukan kesadaran, tindakan, dan pembiasaan secara bertahap.

“Dengan melihat terlebih dulu kondisi aktual lingkungan BDK/Loka, dari head (ilmu), hand (amal), heart (iman), menuju habitat (budaya kerja). Ini tentu perlu berproses, tidak selesai hanya dengan audit awal, tetapi menjadi langkah untuk memulai,” ujarnya.

Menurut Mastuki, audit bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal membangun perubahan. Kebiasaan sederhana seperti menghemat penggunaan air dan listrik, mengoptimalkan dokumen digital, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler, hingga memperkuat pemilahan sampah diharapkan tumbuh menjadi habit yang pada akhirnya berkembang menjadi culture atau budaya kerja.

Bagi BDK Provinsi Aceh, keikutsertaan dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan satuan kerja dalam mengimplementasikan program Ekoteologi secara terarah. Melalui pemahaman yang sama sejak tahap asesmen, seluruh unsur organisasi diharapkan mampu membangun komitmen bersama untuk menghadirkan lingkungan kerja yang lebih efisien, tertib, dan berkelanjutan.

Dalam jangka panjang, pembiasaan ekoteologis diyakini tidak hanya berkontribusi terhadap penghematan penggunaan air, listrik, kertas, dan biaya operasional, tetapi juga membentuk budaya kerja yang berintegritas serta memperkuat peran BDK dan Loka sebagai satuan kerja yang adaptif terhadap isu keberlanjutan. Dengan demikian, nilai-nilai ekoteologi tidak berhenti sebagai program, melainkan berkembang menjadi perilaku kerja yang melekat dalam pelaksanaan tugas dan fungsi aparatur.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT