Rindu Ramadan Tanpa Batas

Oleh: Saikhul Hadi, S.Ag

Ramadan sudah di depan mata. Dalam hitungan hari akan memasuki ruang waktu bulan suci tersebut. Sebentar lagi akan melihat gegap gempita menyambut penuh berkah ini. Marbahan ya Ramadan!

Dalam siklus waktu, Ramadan tak ubahnya pergantian bulan lainnya. Namun dari sisi religiusitas, bulan ini lain daripada yang lain. Bahkan dari sisi penjiwaan penyambutannya saja, Ramadan sudah bisa membedakan dua golongan.

Pertama, orang yang jiwanya berkata, “Yah, sudah Ramadan lagi!” Kadang secara verbal terucap kalimat, “Wah cepat banget, sudah puasa lagi, padahal perasaan baru kemarin lebaran!”

Kelompok ini memang tidak menolak Ramadan, sebab penolakan mereka tidak berarti bagi waktu. Namun, ungkapan itu menggambarkan jiwa mereka merasa berat, gelisah, dan tidak ikhlas dengan kehadiran Ramadan. Ramadan datang dengan membawa segala atributnya, yang dirasakan sebagai pembatasan aktivitas dari yang sebelas bulan biasa dilakukan.

Gambarannya seperti murid SD mendapat pekerjaan rumah (PR) dari guru. Mereka tidak kuasa menolak, namun hatinya menggerutu: “Huh… PR lagi, PR lagi!” Jiwa-jiwa yang demikian tetap menerima Ramadan, namun setengah hati, dan melaksanakan puasa sebagai bentuk menggugurkan kewajiban semata.

Kedua, orang yang jiwanya berkata, “Alhamdulillah, saya dipertemukan kembali dengan Ramadan.” Ada luapan emosi keluar dari lubuk hati paling dalam. Bagi mereka, waktu berjalan amat lambat sehingga kedatangan Ramadan terkesan lama. Ibarat seorang kekasih yang ditinggal pujaan hatinya dan sebentar lagi belahan jiwa datang mengetuk pintu. Mereka hamba yang sungguh-sungguh merindukan Ramadan. Ramadan menjadi ruang waktu perjumpaan dengan kekasih. Bahkan sebelum sosoknya datang, bayangannya saja membuat dada berdebar. Saat Ramadan berdiri dan menyapa, mereka melupakan segalanya demi satu tujuan, berasyikmasyuk dengan sang Ramadan.

Mengacu pada sudut pandang ini, bisa diukur diri sendiri, tergolong manakah kita ketika menyambut Ramadan, kelompok pertama atau kedua?

Mengapa ada Ramadan?

Pernahkah terbersit dibenak Anda pertanyaan, mengapa harus ada Ramadan? Mengapa harus ada sebulan dalam setahun, umat Islam dilarang makan minum dan aneka kesenangan ragawi lainnya sepanjang hampir 12 jam lamanya? Betapa merepotkannya itu! Kenapa kok tidak seminggu saja? Kenapa tidak dibuat aturan seminggu puasa seminggu tidak? Atau dibuat lebih fleksibel lagi. Dalam setahun diwajibkan puasa 30 hari tetapi bebas milih kapan bulan dan tanggalnya, yang penting terpenuhi 30 hari.Singkatnya, dalam pertanyaan nakal, kok Tuhan tega banget ‘menyiksa’ hamba-hambanya kelaparan dan kehausan sebulan bleng. Belum lagi dengan salat tarawih yang jumlahnya puluhan rakaat itu. Memang sih hukumnya sunah, tapi kesannya sudah menjadi hal wajib setiap Ramadan tiba.

Jika dijawab dengan serentetan dalil Quran dan Sunah, maka pertanyaan di atas sebenarnya selesai. Namun bagi penulis pribadi, dan bisa jadi sebagian orang, jawaban model dogmatis-didaktik seperti itu kadang tidak selalu memuaskan dahaga keingintahuan yang sudah kadung membuncah di ubun-ubun. Seringkali teks atau nash yang dipahami secara harfiah malah membatasi ruang pikiran untuk menelisik pengetahuan secara lebih mendalam dalam rangka mengungkap sisi-sisi kebenaran yang tersembunyi atau tersirat.

Sebagaimana diungkapkan Ibnu Arabi bahwa setiap sisi kehidupan di dunia ini mengandung dua makna, yaitu lahir dan batin. Terlebih jika menyangkut ibadah, dalam hal ini puasa, nilai batinnya pasti lebih luas dan dalam ketimbang makna lahirnya.

Selama ini, puasa cenderung didekati dari makna lahir, maka yang terjadi, seperti yang dapat saksikan. Ramadan menjadi ibadah ritual semata setahun sekali; Ramadan jadi lahan bisnis baru dalam memasarkan komoditi; Ramadan mirip dengan festival ibadah dengan segala gemerlapnya, dan sebagainya.

Jujur, tentu sangat baik jika masjid, musala, maupun surau penuh dengan jemaah, dan orang bersedekah meningkat tajam. Namun, semua itu tidaklah cukup. Karena baru indikator lahiriah. Buktinya begitu selesai Ramadan, tempat-tempat ibadah kembali senyap seperti bulan-bulan sebelumnya. Tak usah dibantah. Itu fakta di sekeliling kita.

Lalu bagaimana memahami Ramadan? Bagi penulis, hidup ini ibarat orang yang mendaki gunung. Tujuannya jelas dan gamblang, yakni puncak gunung, sebagai perlambang dari puncak kehidupan, yakni Allah Swt.

Mencapai puncak berarti kembali kepada Allah, Tuhan Sang Pencipta. Bukan main tingginya gunung ini, sebab harus didaki sepanjang hayat dikandung badan. Tanjakan musibah, turunan bencana, juga dataran kenikmatan. Itu sebagian yang mesti dilalui oleh setiap pendaki. Lelah, capai, pegal, kehabisan bekal adalah sebagian kendala yang dihadapi.

Sebagaimana dalam pendakian gunung, selalu ada pos sebagai tempat istirahat para pendaki, sebelum melanjutkan perjalanan yang nantinya juga akan dijumpai pos lagi. Dan seterusnya. Orang yang pernah mendaki gunung, sangat paham arti penting pos pendakian. Di sana mereka istirahat secukupnya; jika ada yang sakit harus segera diobati; menyiapkan bekal; menyusun strategi; melihat peta kembali, sudah on the track atau salah jalan; me-refresh pikiran dan semangat; serta mengevaluasi perjalanan sebelumnya. Setelah dirasa cukup, mereka kembali mendaki dengan tenaga dan kekuatan baru.

Ramadan pos kehidupan

Nah, bagi penulis, Ramadan adalah pos dalam rute pendakian gunung kehidupan. Sebelas bulan mendaki gunung dibalut dengan kelelahan dan kekeringan spiritual. Allah Swt. memberi hadiah Ramadan untuk insan gunakan sebagai pos peristirahatan selama sebulan penuh.

Pada bulan ini, lihat kembali peta pendakian hidup. Sudahkah on the track menuju puncak, yakni Allah, atau melenceng jauh atau bahkan tersesat. Di bulan ini, tengok perbekalan. Bukan harta benda dunia. Tapi sebaik-baik perbekalan yaitu takwa dan iman. Masih tebal atau sudah sangat tipis, atau hilang sama sekali iman dan takwa. Itu fokus kita. Itu sebabnya manusia diminta mengurangi kesenangan ragawi agar bisa konsentrasi memikirkan kondisi rohani.

Pada Ramadan ini, mari cek adakah penyakit yang menempel di hati. Teliti kembali pikiran-pikiran kita tentang hidup dan evaluasi pendakian hidup sebelas bulan sebelumnya.

Jika semua itu dilakukan, pada ujung Ramadan, hidup diibaratkan bayi. Bukan berarti kecil dan lemah, tetapi sebagai simbol dimulainya pendakian baru dengan tenaga, kekuatan, semangat, pikiran, serta iman yang baru dan penuh. Alhasil, dari tahun ke tahun pendakian semakin lama kian mendekati puncak. Dari Ramadan satu ke Ramadan lain, langkah hati, serta hidup semakin dekat dengan Allah. Bukan sebaliknya, menjadi jalan memutar yang melingkar-lingkar sehingga tidak pernah sampai ke mana pun.

Sayangnya, muslim kerap menjadikan Ramadan sebagai ‘mesin cuci’ dosa. Baju yang setahun ini penuh lumpur kesalahan, dimasukkan mesin cuci merek Ramadan. Setelah bersih digunakan kembali untuk melakukan kesalahan yang sama.

Ada anggapan Ramadan sebagai mall yang menggelar obral pahala super jumbo. Dalam sebulan ini, kita memborong semua kebaikan, lalu sebelas bulan berikutnya berhemat dalam kebaikan.

Sayangnya, kita terlanjur membuat Ramadan sebagai medan berburu berkah, seolah-olah di luar Ramadan Allah tidur dan lupa menebarkan berkah kepada hamba-Nya. Bahkan, masih ada yang memandang Ramadan sebagai ibadah lapar dahaga. Diam-diam mental pikiran masih persis anak balita yang menyamakan Ramadan dengan membereskan tempat tidur, yang jika dikerjakan berharap pujian dari orang tua dan sebutir manisan.

Lalu kapan kita benar-benar merindukan Ramadan sebagai waktu perjumpaan dan bermesraan dengan sang kekasih? Selamat merindukan Ramadan.

*Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur dan Redaktur Suluhagama

TERBARU

BERITA TERHANGAT

BERITA MINGGUAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT