Membangun Moderasi Beragama pada Hari Santri

Oleh: Jon Paisal, M.Ag
Penulis adalah: Dosen Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh
Email: [email protected]

Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran nomor 25 tahun 2023 pada tanggal 11 Oktober 2023 mengenai perayaan Hari Santri dengan tema “Jihad Santri, Jayakan Negeri.” Dalam hal ini, seluruh pegawai di Kementerian Agama, di semua unit kerja masing-masing, melaksanakan upacara sebagai bagian dari peringatan hari tersebut.

Pada umumnya, saat melaksanakan upacara peringatan Hari Santri, pegawai Kementerian Agama mengenakan busana tradisional yang meliputi sarung, kemeja putih berlengan panjang, dan memakai peci hitam di kepala. Pakaian ini sangat menyerupai busana yang sering dikenakan oleh santri ketika mengikuti pengajian di pesantren.

Hari Santri, yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 22 Oktober, merupakan waktu yang signifikan untuk menghormati serta merayakan peran santri dalam pembangunan dan perkembangan Indonesia. Perayaan ini memberikan peluang berharga untuk merenungkan sumbangan luar biasa yang telah diberikan oleh para santri di beragam bidang, mulai dari pendidikan hingga pemeliharaan nilai-nilai keagamaan, dan sekaligus mengingatkan kita akan urgensi terus mendukung perkembangan pesantren.

Salah satu elemen krusial yang patut ditekankan adalah peran pendidikan dalam kehidupan santri. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan yang memainkan peran besar dalam membentuk karakter dan pengetahuan generasi muda Indonesia, memberikan kontribusi yang luar biasa. Santri tidak hanya mendalami ilmu agama, namun juga menggali pengetahuan umum, sambil menanamkan nilai-nilai moral dan etika yang kokoh.

Hal ini membantu membentuk pribadi santri menjadi individu yang memiliki integritas, peduli terhadap masyarakat, dan penuh semangat dalam memberikan kontribusi pada negara dan bangsa.
Pesantren, sebagai pusat pendidikan agama Islam tradisional di Indonesia, memegang peran sangat penting dalam membentuk karakter generasi santri, serta mewariskan nilai-nilai agama dan mendorong toleransi antarumat beragama.

Oleh karena itu, upaya membangun moderasi beragama di pesantren menjadi langkah yang sangat esensial untuk memelihara perdamaian dan harmoni dalam masyarakat kita.

Moderasi beragama merujuk pada konsep yang mendorong pemahaman agama yang seimbang dan dipenuhi dengan kasih sayang. Konsep ini merupakan penawar efektif terhadap radikalisme dan ekstremisme yang sering kali merajalela di kalangan individu yang belum memiliki pemahaman yang benar mengenai agama. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan agama, memiliki peluang unik untuk memperkuat konsep moderasi beragama di seluruh Indonesia.

Konsep Moderasi Beragama
Moderasi beragama adalah upaya keagamaan yang bertujuan untuk menghindari perilaku ekstrem dalam praktik agama. Ini berarti bahwa moderasi beragama adalah suatu pendekatan yang mendorong masyarakat untuk menghormati dan bersikap toleran terhadap sesama dalam kehidupan sosial. Namun, dalam konteks keyakinan masing-masing individu, mereka tetap memegang prinsip agama mereka tanpa merendahkan agama lain, yang dapat memicu konflik agama dalam kehidupan sosial.

Melihat keragaman agama di Indonesia, moderasi beragama sangat penting untuk menjaga perdamaian dan mengayomi perbedaan yang ada, serta mencegah timbulnya konflik agama. Kehadiran moderasi beragama merupakan alat penting untuk menjaga harmoni dalam masyarakat. Namun, jika upaya untuk mencapai pemahaman moderasi beragama gagal, maka risiko konflik agama menjadi lebih tinggi.

Moderasi beragama bukan berarti menghapus perbedaan atau mengurangi nilai khusus dari agama tertentu. Sebaliknya, moderasi beragama adalah cara untuk menciptakan lingkungan di mana individu dengan latar belakang keagamaan yang beragam dapat hidup secara damai, menghormati satu sama lain, dan memahami perbedaan mereka.

Pesantren memainkan peran kunci dalam memberikan pemahaman agama yang tepat dan seimbang. Ini mencakup pemahaman yang melibatkan aspek-aspek kultural, sosial, ekonomi, serta etika dan moral dalam agama. Dengan cara ini, pesantren membantu para santri memahami bahwa agama seharusnya menjadi sumber perdamaian, bukan konflik
Peran Ulama di pesantren.

Para ulama yang mengajar santri di pesantren telah memberikan contoh yang baik dalam menerapkan moderasi dalam beragama. Mereka tidak pernah mengejek atau merendahkan keyakinan kelompok lain saat melakukan dakwah, ulama di Indonesia menunjukkan bagaimana pemahaman agama yang benar sangat penting tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam tindakan sehari-hari dan kontribusi positif dalam kehidupan masyarakat.

Selanjutnya, pesantren juga dapat berperan dalam upaya deradikalisasi. Para ulama dapat membantu mengurangi pengaruh radikalisme dengan menjelaskan kepada santri mengenai bahaya ekstremisme, dan mereka memberikan alternatif pemahaman agama yang lebih moderat dan damai kepada santri.

Ketika mendidik santri di pesantren, ulama tidak mengharapkan imbalan dari santri atau pemerintah. Bahkan, mereka mengeluarkan dana pribadi untuk mendirikan pondok pesantren. Ini menunjukkan betapa tulusnya ulama pesantren dalam mentransfer pengetahuan kepada generasi mendatang.

Membangun moderasi beragama di pesantren merupakan salah satu langkah kunci untuk mencapai Indonesia yang harmonis, damai, dan toleran. Dengan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak yang berkepentingan, pesantren dapat menjadi pusat pendidikan agama yang mempromosikan moderasi dan perdamaian, yang pada gilirannya akan menjauhkan generasi muda dari jalan radikalisme dan berkontribusi pada keamanan dan stabilitas negara.

Pemerintah Indonesia memiliki peran penting dalam mengembangkan dan menerapkan kebijakan pendidikan yang mendukung moderasi beragama di semua tingkatan pendidikan. Ini mencakup pengintegrasian pemahaman agama yang bersifat moderat serta pendidikan multikultural ke dalam kurikulum pendidikan. Selain itu, pemerintah perlu memberikan dukungan kepada pesantren yang mempromosikan moderasi beragama. Bantuan finansial, pelatihan, dan sumber daya lain harus disediakan untuk memperkuat pendidikan agama yang moderat di pesantren.

Moderasi beragama juga telah dijadikan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk periode 2020-2024. Hal ini menunjukkan bahwa moderasi beragama memiliki peran signifikan dalam mencegah penyebaran radikalisme yang berpotensi mengganggu kehidupan bersama dalam masyarakat.

Di Indonesia, sebuah negara yang dikenal dengan keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama, penguatan moderasi beragama menjadi suatu hal yang sangat penting. Keberadaan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, moderasi beragama merupakan dasar sosial yang sangat krusial untuk mewujudkan tujuan negara.

Lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam mencegah radikalisme di masyarakat. Mahasantri, sebagai bagian dari lembaga-lembaga pendidikan agama, memegang peran penting dalam memelihara moderasi beragama yang baik untuk kepentingan bangsa, terutama dalam perspektif masa depan.

Era globalisasi telah mempercepat penyebaran informasi, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan distorsi dalam pemahaman keagamaan dan berkontribusi pada munculnya paham radikal. Santri memiliki nilai-nilai keagamaan yang sangat dihargai oleh masyarakat dan oleh karena itu memiliki kapasitas untuk menyebarkan pemahaman yang seimbang dan moderasi beragama yang positif dalam lingkungannya.

Pemahaman moderasi beragama di pesantren dapat diwujudkan melalui komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal. Pesantren memiliki peran strategis dan metode yang efektif dalam membangun dasar yang kokoh untuk moderasi agama. Pesantren juga dapat berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga pemahaman agama yang bersifat moderat.

Oleh karena itu, harapannya adalah bahwa para mahasantri akan dapat membagikan pengetahuan yang mereka peroleh selama di pesantren kepada masyarakat sekitar, sehingga nilai-nilai moderasi agama yang diajarkan di pesantren dapat tersebar dan diterapkan dalam masyarakat secara lebih luas.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Amelia Ulfa Rosida dengan judul “Peran Mahasantri dalam Membangun Negara Melalui Penguatan Moderasi Agama” mengindikasikan bahwa pesantren dianggap memiliki peran yang sangat penting dan metode yang efektif dalam membentuk dasar moderasi beragama yang kuat. Pesantren berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga pemahaman agama yang bersifat moderat. Sikap moderat (tawasut) dan toleran (tasamuh) menjadi salah satu ciri yang ditunjukkan oleh anak pesantren di bawah bimbingan para ulama. Oleh karena itu, harapannya adalah bahwa para santri dapat menjadi generasi pemimpin masa depan yang unggul, dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi bangsa ini dengan mengurangi insiden kriminal dan tindakan terorisme dalam pemerintahan serta membuat keputusan yang berdasarkan pada nilai-nilai agama.

Kesimpulan
Membangun moderasi beragama di pesantren adalah bagian penting dari upaya untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dalam kerangka keberagaman agama, dengan tujuan bersama untuk memahami, menghargai, dan bekerjasama dengan individu yang memiliki keyakinan berbeda. Dengan cara ini, kita dapat menciptakan dunia yang lebih inklusif dan sejahtera.

Diharapkan bahwa tulisan singkat ini dapat memberikan bantuan dan inspirasi dalam upaya mempromosikan moderasi beragama yang lebih tepat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.
Hari Santri juga memiliki relevansi dalam upaya melawan radikalisme. Santri, dengan latar belakang pendidikan agama yang kokoh dan pemahaman yang mendalam, memiliki peran krusial dalam menjaga Indonesia dari ancaman radikalisme dan ekstremisme. Mereka memiliki kemampuan untuk membedakan antara ajaran agama yang benar dengan pandangan-pandangan radikal yang mengancam keamanan dan stabilitas negara.

Namun, peringatan Hari Santri juga seharusnya menjadi panggilan untuk terus mendukung pesantren. Banyak pesantren di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk kurangnya sumber daya dan infrastruktur yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu bersatu untuk memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang vital dalam pembangunan negara.
Selamat Hari Santri, semoga pesantren dan santri terus menjadi garda terdepan dalam upaya membangun bangsa dan negara.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

1 KOMENTAR

Komentar ditutup.