Ramli, Pelukis Tunarungu Binaan SLB YAPDI, Jadikan Karya sebagai Bekal Masa Depan

Banda Aceh – Di balik deretan lukisan wajah para pejabat Aceh yang dibuat dengan penuh detail, tersimpan kisah perjuangan seorang penyandang disabilitas tunarungu bernama Ramli. Kehidupan yang penuh keterbatasan tidak menghalanginya untuk terus berkarya berkat pendampingan dan perhatian dari SLB YAPDI.

Kepala SLB YAPDI, Heni Ekawati, S.Pd., M.Pd., menceritakan bahwa Ramli merupakan seorang Piatu dari keluarga kurang mampu. Ibunya telah meninggal dunia setelah lama sakit, sementara satu-satunya rumah bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dimiliki keluarga terpaksa dijual demi biaya pengobatan.

“Setelah ibunya meninggal, ayah Ramli harus bekerja berpindah-pindah mengikuti pekerjaan yang ada. Karena kondisi itu, sudah dua tahun terakhir Ramli tinggal bersama saya agar tetap mendapatkan pendampingan dan bisa melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik,” ujar Heni, kepada wartawan jaringanberitaaceh.com, Banda Aceh, 6 Agustus 2026.

Menurutnya, bakat melukis Ramli sebenarnya sudah terlihat sejak masih menjadi siswa di sekolah luar biasa tempat Heni mengajar sebelumnya. Namun, keterbatasan ekonomi membuat peluang untuk mengembangkan bakat tersebut nyaris tertutup.

“Dia memiliki kemampuan melukis wajah seseorang dengan sangat baik. Kami merasa sayang apabila bakat itu tidak dikembangkan. Karena itulah kami terus membimbing, mengasah kemampuan, dan memotivasi Ramli agar terus berkarya,” katanya.

Hasilnya pun mulai terlihat. Berbagai tokoh penting di Aceh telah menjadi objek lukisan Ramli, di antaranya Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Kapolda Aceh, Kepala dinas pendidikan Aceh, hingga sejumlah kepala bidang di lingkungan Pemerintah Aceh.

Heni mengatakan, setiap karya yang dihasilkan bukan hanya menjadi bukti kemampuan Ramli, tetapi juga menjadi bekal untuk masa depannya.
“Kami ingin dia memiliki kehidupan yang lebih baik. Hasil penjualan lukisannya disimpan sebagai bekal untuk masa depannya, termasuk karena dia memiliki cita-cita membangun keluarga dan menikah suatu hari nanti,” ungkapnya.

Tak hanya Ramli, SLB YAPDI juga berhasil melahirkan pelukis-pelukis muda berbakat lainnya. Noval berhasil menjadi wakil Provinsi Aceh pada ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N) cabang seni lukis tingkat SMP. Sementara Wafa pernah mewakili Aceh di tingkat nasional dan meraih Juara I Berkarakter kategori pelukis cilik pada 2023 saat masih duduk di kelas II.

Prestasi tersebut semakin menguatkan identitas SLB YAPDI sebagai sekolah yang mengedepankan pendidikan vokasional, khususnya di bidang keterampilan membatik dan melukis.

“Branding sekolah kami memang berada pada bidang keterampilan. Anak-anak SLB nantinya harus memiliki bekal vokasional agar mampu mandiri setelah lulus,” jelas Heni.

Selain melukis, bidang membatik juga menjadi unggulan sekolah. Selama dua tahun berturut-turut, siswa SLB YAPDI berhasil mewakili Provinsi Aceh pada kompetisi tingkat nasional.

Salah satu siswi berbakat, Muna, kembali mengikuti seleksi nasional melalui lomba membatik. Seluruh proses penilaian dilakukan melalui video yang memperlihatkan tahapan pembuatan batik sejak awal, mulai dari menentukan motif, membuat sketsa, menjiplak ke kain, mencanting, mewarnai, mencelup, hingga merebus kain sesuai ketentuan lomba.

“Semoga Muna bisa masuk lima besar tingkat nasional. Membatik membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi, tetapi anak-anak kami mampu menyelesaikannya dengan baik sesuai petunjuk teknis perlombaan,” ujarnya.

Karya batik para siswa bahkan telah mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya dikenakan oleh istri Gubernur Aceh pada peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial di Dinas Sosial Aceh. Sementara itu, saat SLB YAPDI menggelar pameran di Polda Aceh, Kapolda Aceh bersama Ketua Bhayangkari langsung membeli dua lukisan karya Noval dan Wafa.

Menurut Heni, seluruh karya tersebut merupakan hasil asli para siswa tanpa campur tangan guru.
Ke depan, SLB YAPDI tidak hanya ingin dikenal sebagai sekolah yang unggul dalam keterampilan, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an Isyarat di Indonesia.

“Kami ingin membangun tiga branding utama sekolah, yaitu keterampilan, karakter, dan pembelajaran Al-Qur’an Isyarat. Saya sendiri merupakan salah satu penyusun sekaligus narasumber Al-Qur’an Isyarat Indonesia, sehingga kami mulai mengimplementasikannya di sekolah ini agar menjadi pusat rujukan,” jelasnya.

Ia juga berharap suatu saat nanti sekolah memiliki galeri khusus untuk memamerkan sekaligus memasarkan hasil karya batik dan lukisan para siswa sehingga memiliki nilai ekonomi bagi para penyandang disabilitas.
Meski demikian, perjalanan membangun SLB YAPDI tidaklah mudah. Sekolah tersebut dirintis dari nol di wilayah yang sebelumnya belum memiliki sekolah luar biasa.

“Tantangannya sangat besar karena kami memulai semuanya dari awal. Namun, tujuan utama kami sederhana, yaitu agar anak-anak disabilitas di wilayah ini memperoleh hak mendapatkan pendidikan yang layak,” katanya.

Heni mengaku semangat mendirikan sekolah itu juga dipicu oleh pengalaman emosional bersama salah seorang alumni di sekolah lamanya. Setelah mereka berpisah, semangat belajar siswa tersebut menurun drastis hingga orang tuanya mengatakan anaknya seperti kehilangan separuh jiwanya.

“Pengalaman itu menjadi motivasi besar bagi saya untuk segera mendirikan SLB ini. Saya ingin anak-anak disabilitas tetap mendapatkan pendampingan, kasih sayang, dan ruang untuk berkembang sesuai potensi yang mereka miliki,” tutupnya.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT