Pengukuhan Ketua MAA Aceh Tamiang Periode 2023-2027, Ini Pesan Pj Bupati Meurah Budiman

Karang Baru, Jaringanberitaaceh.com | Pj. Bupati Aceh Tamiang, Dr. Drs. Meurah Budiman, SH, MH, mengukuhkan Drs. Muhammad Djuned Thahir sebagai Ketua MAA Kabupaten Aceh Tamiang periode 2023-2027. Senin 11-September-2023.

Kegiatan tersebut berlangsung di aula Setdakab setempat, Pada Pengukuhan Drs. Muhammad Djuned Thahir sebagai Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), dalam sambutanya, Pj Bupati Meurah memberikan pesan agar dapat dijalankan dengan baik dan amanah.

“Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan baik. Diharapkan dengan dikukuhkannya Pengurus yang baru, MAA akan terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan para Pemangku kepentingan dalam mewujudkan Pembangunan Daerah khususnya adat istiadat di Bumi Muda Sedia ini,” Sebut Meurah dalam sambutannya.

Pj. Bupati Meurah menuturkan, Aceh Tamiang menjadi satu-satunya Kabupaten yang eksis menjunjung tinggi adat Melayu. Hal ini dipertegas dengan adanya penerapan menggunakan baju adat melayu pada setiap hari Jum’at.

“Ini menjadi ciri khas kita. Kita harus bangga. Mari lestarikan adat istiadat untuk membangun Aceh Tamiang yang bermartabat,” Ujarnya.

Pengukuhan Muhammad Djuned Thahir sebagai Ketua MAA Aceh Tamiang untuk mengisi kekosongan jabatan Ketua yang lama, Abdul Muin yang beberapa bulan lalu telah berpulang keramahtullah.

Berdasarkan Pasal 13 Qanun Kabupaten Aceh Tamiang Nomor 2 Tahun 2022, untuk kepentingan sebuah organisasi agar terus dapat berjalan secara maksimal dalam mengemban tugas dan fungsinya tentu perlu dilakukan pengisian kekosongan Jabatan ketua MAA Kabupaten Aceh Tamiang atas musyawarah bersama para pengurus.

Dengan terpilihnya Ketua Majelis Adat Aceh Kabupaten Aceh Tamiang yang baru dikukuhkankan ini, dapat menunjukkan dedikasi dan loyalitas dalam mewujudkan budaya yang harmonis dan penataan tertib hukum bagi kesejahteraan kehidupan masyarakat melalui pelaksanaan adat istiadat, serta menjaga eksistensi adat yang sejalan dengan syari’at Islam, sebagaimana yang tertuang dalam falsafah Tamiang “Sebadi adat dengan syara’, adat dipangku syara’ dijunjung, resam dijalen, qanun diator duduk setikar”.***

spot_img
spot_img
spot_img

TERBARU

spot_img
spot_img

BERITA TERHANGAT

BERITA MINGGUAN

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT