ISAD: Dayah Harus jadi Agen Edukatif dan Transformatif Hadapi Krisis Generasi

Banda Aceh, JBA – Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh menggelar kajian bertema “Dayah sebagai Agen Edukatif dan Transformatif dalam Menghadapi Krisis Generasi” di Banda Aceh, Jumat (10/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Guru Besar UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Syamsul Rijal, M.Ag., alumni Dayah MUDI Mesra Samalanga, sebagai pemateri utama. Turut menjadi narasumber Dr. T. Zulkhairi, MA., Mudir Ma’had Aly Babussalam Al-Hanafiyyah Aceh Utara, serta Walid Rusli, M.Ag., Penyuluh Agama Islam Kota Banda Aceh. Kajian dipandu Tgk. Burhanuddin, MA., Wakil Ketua ISAD Aceh sekaligus Ketua Generasi Aceh Peduli.

Dalam pemaparannya, Prof. Syamsul Rijal menegaskan bahwa dayah memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda Aceh, seperti krisis moral, rendahnya literasi, serta derasnya pengaruh perkembangan teknologi dan media digital.

Menurutnya, dayah tidak cukup hanya berperan sebagai lembaga yang menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga harus mampu mentransformasikan nilai-nilai Islam agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.

“Dayah harus hadir memberikan solusi terhadap berbagai persoalan umat. Nilai-nilai yang diajarkan di dayah harus diwujudkan dalam kehidupan sosial sehingga melahirkan generasi yang berakhlak, berilmu, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. T. Zulkhairi menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan pendidikan dayah tanpa menghilangkan identitas dan kekhasan yang diwariskan para ulama. Menurutnya, penguatan kolaborasi antara dayah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun generasi yang tangguh di tengah dinamika perubahan global.

Adapun Walid Rusli, M.Ag., yang juga mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Ar-Raniry, mengingatkan bahwa dayah merupakan benteng pertahanan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai krisis yang mengancam kehidupan umat. Karena itu, menurutnya, eksistensi dayah harus terus diperkuat sebagai pusat pembinaan moral, akhlak, dan karakter generasi muda Aceh.

Kajian berlangsung interaktif dan diikuti akademisi, alumni dayah, santri, mahasiswa, serta masyarakat umum. Berbagai gagasan mengemuka mengenai strategi memperkuat peran dayah sebagai pusat pendidikan karakter, pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Koordinator Program Kajian Tastafi–ISAD Aceh, Tgk. Alwy Alkhalidi, M.H., berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam mendukung peran dayah sebagai lembaga pendidikan Islam yang mampu menjaga khazanah keilmuan sekaligus menjadi agen edukatif dan transformatif dalam menghadapi krisis generasi, baik di Aceh maupun Indonesia.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT