Hadapi Tantangan Generasi Digital, Kolaborasi Lembaga Pendidikan dan Orang Tua jadi Kunci

Banda Aceh, JBA – Membentuk karakter anak di era digital memerlukan strategi khusus. Tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang terkesan otoriter, pola pengasuhan masa kini menuntut komunikasi interaktif dan sinergi erat antara orang tua dan pendidik.

Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Keilmuan Ahad bertema “Merajut Sinergi, Menguatkan Generasi” yang digelar oleh Fushulul Quran Aceh (FQA) bersama lintas lembaga pendidikan dan organisasi kepemudaan di MJD Kopi, Banda Aceh.

Founder & Pimpinan Fushulul Quran Aceh, Ustaz Hamdi Multazam, S.Pd., C.LQ., M.Pd. dalam penyampaiannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan untuk saling mengajar antar peserta, melainkan sebagai tempat berkumpul untuk berbagi pengalaman dari berbagai latar belakang, sehingga dapat mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam dunia pendidikan.
“Uthlub al-‘ilma minal mahdi ilal lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat),” katanya.

Berikut adalah 4 poin penting dari hasil diskusi tersebut:

*1. Orang Tua Adalah _First School_*
Tanggung jawab moral, emosional, dan spiritual anak berada di tangan orang tua. Anak-anak generasi modern lebih responsif terhadap keteladanan dan alasan yang rasional ketimbang instruksi satu arah atau celaan.

*2. Batasi Gawai dengan Kesepakatan, Bukan Sekadar Larangan*
Penggunaan gawai tidak bisa dilarang secara kaku. Orang tua disarankan membuat aturan dan kesepakatan bersama anak terkait durasi serta batasan usia konten agar anak tidak merasa terkekang namun tetap terlindungi.

*3. Adab di Atas Ilmu*
Pelajar masa kini dituntut tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menanamkan adab kepada orang tua dan guru. Disiplin waktu, kejujuran akademis, serta etika berinteraksi di media sosial menjadi benteng utama dari pergaulan bebas.

*4. Guru dan Orang Tua Harus Mawas Diri*

Ketika anak mengalami penurunan disiplin atau masalah perilaku, pendidik dan orang tua diajak untuk melakukan introspeksi metode pengasuhan/pembelajaran terlebih dahulu. Sesi diskusi dan tanya jawab dua arah antara sekolah dan orang tua dinilai jauh lebih efektif dibandingkan seminar satu arah.

“Karakter adalah pembiasaan. Apa yang dilihat dan dicontohkan secara konsisten di rumah dan sekolah, itulah yang membentuk habit anak.” ujar ustaz indra.
Diskusi yang dipandu oleh Irfan Maulana, S.H., ini ditutup dengan rekomendasi perlunya aksi nyata dan komitmen berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi generasi muda.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT