Ketika media massa dipenuhi berita tawuran, balap liar, bullying, hingga penyalahgunaan narkoba oleh pelajar, satu pertanyaan refleks muncul di benak kita, “Salah siapa ini semua?”
Masyarakat dengan cepat menunjuk hidung para remaja sebagai pelaku kriminal tunggal. Sisi lain, orang tua kerap disalahkan karena dianggap gagal mendidik anak. Namun, menyematkan kesalahan hanya pada satu pihak adalah cara pandang yang terlalu menyederhanakan masalah. Kenakalan remaja bukanlah fenomena tunggal, melainkan produk dari kegagalan sistemik yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Jika dibedah lebih dalam, fenomena ini adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan rantai sebab dan akibat.
Lingkungan keluarga (fondasi utama)
Rumah seharusnya menjadi madrasah pertama dan tempat berlindung paling aman. Fakta di lapangan menunjukkan banyak kenakalan remaja dipicu oleh pola asuh yang keliru—entah itu terlalu otoriter, terlalu abai, atau konflik internal seperti broken home. Ketika remaja kehilangan figur pelindung dan ruang komunikasi yang sehat di rumah, mereka akan mencari pengakuan di luar, sering kali pada kelompok yang salah.
Orang tua harus sering berkomunikasi dengan anak. Makan bersama di satu meja, membuat majelis taklim, dan mengajak anak salat berjamaah. Berikan kasih sayang dan perhatian yang penuh kepada mereka. Kalau kurang kasih sayang karena orang tua sibuk di luar, maka anak akan mencari kasih sayang di luar dengan berbagai cara yang rentan menyimpang.
Ibu menjadi madrasatul ula (madrasah pertama) dalam mendidik dan mengajarkan anak, terutama pengenalan tauhid, mengenal Allah. Selanjutnya, pembinaan akhlak terpuji melalui contoh suri teladan seorang ibu dan ayah sejak kecil ditanamkan kepada anaknya sehingga terbawa sampai remaja. Allah Swt mengingatkan kewajiban menjaga keluarga dalam surat At-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”
Rasulullah Saw menegaskan tanggung jawab orang tua dalam membentuk fitrah anak, seperti riwayat Imam Bukhari dan Muslim, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Lingkungan pertemanan
Pada usia remaja, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sangatlah tinggi. Tekanan teman sebaya (peer pressure) sering kali memaksa seorang anak melakukan tindakan nekat—seperti merokok, bolos, atau ikut tawuran—hanya demi label “solid” atau “keren”.
Kita juga hidup pada era digital, teknologi berkembang lebih cepat daripada kesiapan mental penggunanya. Kurangnya pengawasan terhadap akses internet membuat remaja mudah terpapar konten kekerasan, pornografi, hingga gaya hidup hedonistik yang menormalisasi perilaku menyimpang. Karenanya, mencari dan memilih kawan atau teman yang baik, yang mau menasihati kepada kebaikan adalah hal krusial bagi remaja.
Allah menggambarkan penyesalan orang-orang yang salah memilih teman di akhirat kelak dalam Surah Al-Furqan ayat 28, “Wahai celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman setia (ku).”
Rasulullah memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang pengaruh teman. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Apabila engkau berteman dengan penjual minyak wangi, engkau bisa membelinya atau minimal mendapat bau wanginya. Sedangkan jika berteman dengan pandai besi, bajumu bisa terbakar atau engkau mendapat bau asapnya yang busuk.”
Masyarakat dan lingkungan sosial
Sikap masyarakat modern cenderung individualis membuat fungsi kontrol sosial melemah. Dahulu, tetangga ikut menegur jika melihat anak remaja berbuat salah. Sekarang, ada ketakutan bila ikut campur atau dicap “kepo”, sehingga ruang bagi remaja untuk “bebas” melakukan penyimpangan menjadi lebih terbuka.
Masyarakat yang abai terhadap kemungkaran di sekitarnya akan mendatangkan kerugian, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Ma’idah ayat 78-79 tentang kaum terdahulu yang dilaknat karena membiarkan kemungkaran, “Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sungguh, amat buruk apa yang selalu mereka perbuat itu.”
Kewajiban kontrol sosial bagi setiap muslim ditegaskan dalam hadis riwayat Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu juga, maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman.”
Mengantarkan anak ikut pengajian (dayah, TPQ, atau halaqah)
Mengantarkan anak untuk mengikuti pengajian, baik di dayah (pesantren) maupun Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), merupakan langkah awal yang sangat mulia dalam membentuk karakter dan akhlak generasi muda sejak dini. Aktivitas rutin ini bukan sekadar rutinitas harian, melainkan bentuk investasi spiritual jangka panjang dari orang tua untuk membekali anak dengan pondasi agama Islam yang kuat, kemampuan membaca Al-Qur’an yang benar, serta pemahaman nilai-nilai moral kehidupan.
Melalui bimbingan para guru dan teungku, anak-anak tidak hanya diajarkan ilmu tauhid dan fikih dasar, tetapi juga dilatih berdisiplin, mandiri, dan bersosialisasi di lingkungan yang religius. Kehadiran orang tua yang meluangkan waktu mengantar dan menjemput pun menjadi bentuk dukungan moral luar biasa, membuat anak merasa dihargai sekaligus termotivasi menuntut ilmu syar’i demi kebaikan masa depan mereka di dunia dan akhirat.
Pentingnya membentuk kelompok yang fokus pada pemahaman agama (tafaqquh fiddin) disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 122, “…Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
Niat mulia melangkahkan kaki ke tempat pengajian dijamin kemudahannya menuju surga. Imam Muslim meriwayatkan hadis nabi, “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Doa orang tua dan guru
Doa orang tua dan guru (ustaz dan ustazah) adalah lentera utama yang menerangi jalan kehidupan seorang anak menuju masa depan yang berkah. Hubungan tulus ini tercermin ketika orang tua memanjatkan doa memohon agar sang buah hati menjadi anak yang saleh, bertakwa, berbakti, serta selalu berada dalam lindungan keselamatan dunia dan akhirat.
Saat yang sama, guru di sekolah, dayah, atau TPQ melengkapinya dengan ketulusan doa agar anak didiknya dibukakan pintu hati dan pikirannya, diberikan kemudahan dalam memahami ilmu agama maupun pengetahuan umum, serta kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama. Kolaborasi spiritual yang kuat antara rumah dan tempat belajar ini menciptakan perisai tak terlihat yang menjaga anak dari marabahaya, sekaligus memotivasi mereka untuk tumbuh menjadi generasi cerdas berakhlak mulia yang langkahnya selalu dinaungi rida Tuhan.
Meniru doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya yang diabadikan dalam surat Ibrahim ayat 40, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”
Mengenai kekuatan doa orang tua yang tanpa penghalang, Imam Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan, “Ada tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi kemakbulannya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Akhir artikel ini, menjawab pertanyaan “salah siapa?”, jawabannya adalah salah kita semua sebagai sebuah ekosistem. Menyalahkan remaja secara prrsonal tanpa memperbaiki lingkungan di sekitarnya tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
Remaja adalah cermin dari apa yang mereka lihat dan terima dari orang tua, sekolah, media, dan lingkungan sekitarnya. Daripada sibuk mencari siapa yang harus dihujat, jauh lebih penting bagi kita untuk mulai mengambil peran. Untuk orang tua memperbaiki komunikasi, sekolah atau dayah memperkuat bimbingan karakter, dan masyarakat kembali peduli pada lingkungan sekitar. Menyembuhkan kenakalan remaja membutuhkan kolaborasi nyata, bukan sekadar penghakiman.




