Jantho — Warga Gampong Lamteuba, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, menggelar gotong royong membersihkan badan jalan akses dari kawasan Ie Suum menuju Lamteuba–Krueng Raya. Kegiatan yang dilakukan melalui tradisi meuseuraya ini berlangsung selama hampir 20 hari, sejak 24 Desember 2025 hingga 15 Januari 2026.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk keprihatinan warga terhadap kondisi jalan yang kian menyempit akibat semak belukar dan pepohonan liar yang merambah ke badan jalan. Kondisi ini dinilai membahayakan pengguna jalan serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Gampong Lamteuba berada di kawasan lembah Pegunungan Seulawah yang diapit hutan lebat. Selain memiliki jarak tempuh yang cukup panjang, jalur menuju permukiman ini juga berkontur terjal sehingga membutuhkan perawatan rutin agar tetap aman dilalui.
Kegelisahan warga atas kondisi tersebut mendorong para tokoh setempat untuk membangun solidaritas melalui meuseuraya. Warga kemudian menggalang dukungan dan donasi lintas sektor guna membiayai pembersihan badan jalan serta membayar para pekerja.
Koordinator kegiatan, Drs. Hamdani, mantan Kepala SMP dan SMA Lamteuba, yang didukung penuh para guru SD, MIN, SMP, dan SMA di Lamteuba, mengatakan bahwa budaya gotong royong masih menjadi kekuatan sosial masyarakat setempat.
“Gotong royong ini bukan hanya untuk membuka akses jalan, tetapi juga menjaga kebersamaan. Kami ingin menunjukkan bahwa budaya meuseuraya masih hidup dan menjadi identitas masyarakat Lamteuba,” ujar Hamdani.
Dukungan terhadap kegiatan ini datang dari berbagai pihak, mulai dari guru-guru, tokoh masyarakat, hingga kalangan akademisi dari Universitas Iskandar Muda (UNIDA), UIN Ar-Raniry, dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh. Sejumlah tokoh turut berpartisipasi sebagai donatur, di antaranya Rektor UNIDA Aceh Prof. Syafe’i Ibrahim, mantan anggota DPR RI Dr. Ahmad Farhan Hamid, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Prof. Yusri Yusuf, serta beberapa tokoh lainnya.
Salah satu donatur yang hadir langsung di lokasi, Rektor ISBI Aceh Prof. Dr. Wildan, mengaku terkesan dengan semangat kolektif warga Lamteuba.
“Di banyak tempat, semangat gotong royong mulai memudar. Apa yang dilakukan warga Lamteuba menunjukkan bahwa nilai kebersamaan itu masih terjaga,” ujarnya.
Hamdani menambahkan, dukungan tulus warga dan relawan dalam membersihkan salah satu urat nadi penghubung Lamteuba menuju Ibu Kota Provinsi Aceh menjadi pengalaman yang sangat mengharukan.
Para guru dan warga berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dapat memberikan perhatian lebih terhadap perawatan akses jalan ke Lamteuba ke depan, mengingat kondisi geografis yang terjal serta potensi tumbuhnya kembali semak belukar jika tidak dirawat secara berkala.
Kepala SMA Lamteuba, Zikriah, S.Pd., M.Pd., bersama salah seorang guru, Fatimah, SE., M.Si., turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan para donatur yang telah meluangkan waktu, tenaga, serta perhatian untuk kegiatan ini,” ujarnya.
Aksi gotong royong tersebut tidak hanya mengembalikan kenyamanan dan keamanan akses jalan, tetapi juga memperlihatkan kuatnya nilai kebersamaan di tengah masyarakat pedalaman Aceh.




