Oleh: Muhammad Syarif
Dosen FAI Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh
Kisah Siti Zulaikha kembali mengetuk batin saya setelah membaca ulang riwayatnya dan menyaksikan bagaimana ia dihidupkan dalam karya sastra dan film. Dari sana, saya menyadari bahwa kisah ini bukan sekadar cerita lama, melainkan cermin pergulatan cinta manusia sepanjang zaman.
Di Mesir kuno, hiduplah seorang perempuan bangsawan bernama Siti Zulaikha, istri seorang pejabat tinggi kerajaan yang dikenal sebagai Al-‘Azīz. Ia hidup dalam kemewahan istana, dikelilingi kehormatan, kekuasaan, dan segala yang diinginkan manusia pada masanya. Hidupnya tampak sempurna, tanpa kekurangan apa pun di mata dunia.
Suatu hari, ke dalam istana itu dibawa seorang pemuda bernama Yusuf. Wajahnya rupawan, perangainya halus, dan akhlaknya memancarkan keteduhan. Sejak pertemuan pertama, hati Zulaikha terguncang. Kekaguman itu perlahan berubah menjadi cinta yang menguasai batinnya—cinta yang mula-mula hadir sebagai rasa, lalu tumbuh menjadi dorongan yang sulit dikendalikan.
Zulaikha berusaha menyembunyikan perasaannya. Namun cinta yang dipendam tanpa arah justru tumbuh semakin kuat. Hingga pada suatu saat, ia kehilangan kendali. Ia menutup pintu-pintu istana dan mengungkapkan keinginannya kepada Yusuf. Namun Yusuf menolak dengan tegas. Ia memilih menjaga kehormatan diri dan takut kepada Allah. Yusuf berlari menjauh, sementara Zulaikha mengejarnya. Peristiwa itu berakhir dengan terbukanya pintu istana dan terbongkarnya kejadian tersebut.
Dalam keguncangan dan rasa malu, Zulaikha menuduh Yusuf. Namun kebenaran akhirnya terungkap. Meski demikian, demi menjaga nama baik istana, Yusuf justru dipenjara. Zulaikha tetap menyimpan cintanya, tetapi kini ia harus menanggung gunjingan dan luka batin yang tak terucap.
Cinta Zulaikha tidak surut. Ketika perempuan-perempuan Mesir mencibir dan mengejeknya, ia mengundang mereka ke sebuah jamuan. Di hadapan mereka, Yusuf diperlihatkan. Seketika para perempuan itu terpesona, hingga melukai tangan mereka sendiri tanpa sadar. Saat itulah Zulaikha berkata bahwa inilah sebab mengapa ia jatuh cinta—sebuah pengakuan yang jujur tentang kekuatan pesona Yusuf, sekaligus pengakuan tentang rapuhnya manusia di hadapan keindahan.
Namun waktu tidak berpihak kepadanya. Tahun-tahun berlalu. Kekuasaan dan harta yang dahulu dimilikinya sirna. Zulaikha menua, hidup dalam kesendirian dan kefakiran. Dalam sunyi itu, cintanya berubah arah. Ia tidak lagi mengejar rupa, melainkan merindukan makna. Ia berserah diri kepada Allah, memohon agar hatinya dibersihkan dari cinta yang melalaikan dan membutakan.
Takdir kemudian mempertemukan kembali Zulaikha dengan Yusuf, yang kini telah menjadi penguasa Mesir. Yusuf tidak membalas luka masa lalu. Dengan kasih dan kebijaksanaan, ia memuliakan Zulaikha. Dalam sejumlah riwayat sastra dan tasawuf, disebutkan bahwa Allah mengembalikan masa muda Zulaikha dan menyatukannya dengan Yusuf dalam ikatan yang halal—sebagai cinta yang telah disucikan oleh kesabaran, penyesalan, dan penyerahan diri.
Kisah cinta Siti Zulaikha bukan sekadar cerita tentang hasrat dan penyesalan. Ia adalah kisah perjalanan cinta: dari nafsu menuju kesucian, dari keterikatan dunia menuju ketundukan kepada Tuhan. Sering kali kisah ini dibaca sebagai kisah kegagalan menahan nafsu. Namun jika direnungi lebih dalam, ia sesungguhnya adalah kisah tentang kejujuran manusia menghadapi kelemahan dirinya sendiri.
Zulaikha tidak memulai dengan niat jahat, tetapi dengan perasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali dan arah. Dalam konteks zaman sekarang, kisah ini terasa sangat dekat. Kita hidup dalam budaya yang memuliakan hasrat: visual dipamerkan, ketertarikan dirayakan, dan batas-batas sering kali dianggap penghalang kebahagiaan. Zulaikha mengingatkan bahwa perasaan yang tidak dikelola dapat mendorong seseorang melampaui nilai, etika, dan bahkan melukai orang lain—termasuk dirinya sendiri.
Perbedaan penting antara Zulaikha dan banyak kisah cinta hari ini terletak pada keberanian untuk mengakui kesalahan dan berubah. Zulaikha tidak membenarkan dirinya. Ia menanggung malu, kehilangan kedudukan, dan menjalani kesendirian. Dalam proses itulah cintanya dimurnikan. Ia belajar bahwa cinta yang memaksa hanya melahirkan kehancuran.
Kisah ini juga kuat dalam mengingatkan soal relasi kuasa. Zulaikha berada pada posisi berkuasa—bangsawan, istri pejabat, pemilik istana. Yusuf berada pada posisi lemah—orang asing, tanpa perlindungan. Dalam konteks hari ini, kisah ini menegaskan bahwa cinta tidak boleh memanfaatkan kuasa: jabatan, status, usia, atau pengaruh. Ketika kuasa dipakai untuk memenuhi hasrat, cinta berubah menjadi penindasan.
Di sisi lain, Yusuf mengajarkan bahwa menahan diri adalah bentuk cinta yang lebih tinggi. Ia memilih lari, bukan melawan. Dalam dunia yang sering memaksa segalanya untuk segera dituntaskan, sikap Yusuf adalah keberanian yang sunyi: berani berkata tidak, berani menjaga diri, dan berani kehilangan demi prinsip.
Lebih jauh, perjalanan Zulaikha menunjukkan bahwa cinta bisa diselamatkan jika diarahkan. Cinta yang pada awalnya bersumber dari nafsu dapat berubah menjadi cinta yang suci ketika manusia berserah kepada Tuhan. Kisah ini menegaskan bahwa masa lalu yang kelam tidak menutup pintu pertobatan dan kematangan jiwa.
Barangkali itulah sebabnya kisah Siti Zulaikha terus diceritakan hingga hari ini. Ia bukan sekadar kisah tentang perempuan yang jatuh cinta, melainkan tentang manusia yang belajar mencintai dengan benar. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak selalu harus diikuti, tetapi harus dipahami; tidak selalu harus dimiliki, tetapi harus dimurnikan. Dan di tengah zaman yang kerap mengaburkan batas antara cinta dan hasrat, kisah ini mengingatkan kita bahwa cinta sejati selalu berpihak pada adab, kesadaran, dan tanggung jawab




