Banda Aceh, JBA – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, atas nama Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang diwakili Asisten I, Syakir, membuka Musyawarah Besar (Mubes) Majelis Adat Aceh (MAA), di Meuligo Istana Wali Nanggroe, Selasa, 7 April 2026.
“Bapak Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menyampaikan salam kepada kita semua, khususnya para peserta Mubes MAA 2026 ini, dan beliau mengatakan selamat bermusyawarah agar Aceh selalu dalam kekuatan keistimewaan Aceh,” kata Syakir, sesuai teks pidato Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, atau yang akrab disapa, Mualem, dan dibacakan oleh Syakir.
Mualem juga menekankan, usai Mubes, MAA harus menunjukkan kinerja nyata dalam mendukung pemeritah Aceh dalam penguatan elemen keistimewaan seperti amanah Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2026, tentang Pemerintah Aceh, bagian yang tidak bisa dipisahkan adalah nilai – nilai keistimewaan Aceh dalam menggapai Aceh yang bermartabat lewat adat ustiadat, sebut Syakir, sesuai amanah Mualem.
Dihadapan Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al-Haythar, Asisten I Sekda Aceh, Syakir dan para Forkopimda Aceh serta seluruh peserta yang hadir, Prof. Yusri Yusuf, mengatakan bahwa Mubes sempat tertunda beberapa bulan lantaran terbentur anggaran yang disahkan, kondisi Aceh tertimpa bencana banjir dan longsor sehingga MAA kabupaten kota belum bisa hadir untuk Mubes.
“Jadi atas dukungan Bapak Gubernur dan Paduka Yang Mulia, Tengku Malik Mahmud, kami segera adakan Mubes, sebab pengurusan 2021 – 2026 berakhir pada 9 Mei 2026, sesuai perintah qanun nomor 8 tahun 2019 agar segera laksanakan Mubes,” lapor Prof. Yusri Yusuf.
Saat ini, peserta Mubes berjumlah 45 orang, terdiri dari unsur kabupaten kota sebanyak 23 peserta, perwakilan propinsi ada 8 peserta, 6 orang peserta ahli adat dan 8 orang peserta dari pengurus MAA saat ini, katanya.
Wali Nanggroe Aceh, PYM Malik Mahmud Al-Haythar, saat memberi arahan kepada seluruh peserta Mubes berharap bukti nyata dan tindakan agresif dalam memepertahankan adat istiadat Aceh, agar masyarakat benar – benar merasakan nyaman dengan adanya MAA.
“MAA harus menjadi alat pemersatu bangsa lewat adat, sehingga perlu personil yang paham adat istiadat dan mampu mendamaikan anak bangsa seperti cita-cita leluhur bangsa Aceh,” kata PYM Malik Mahmud.
Ketua Panitia Mubes MAA 2026, Miftah Tjut Adeh, kepada awak media mengatakan, hingga hari pertama Mubes, nama yang muncul sebagai calon ketua hanya ada satu nama yaitu Prof. Yusri Yusuf.
“Hingga saat ini baru ada satu calon yang digadang – gadang maju sebagai ketua MAA priode kedepan, yaitu Prof. Yusri Yusuf, merupakan ketua MAA priode penggantian antar waktu,” sebut Miftah Tjut Adek.
Sementara beberapa peserta Mubes yang ditanya mengatakan, Mubes yang dilaksanakan saat ini sangat tepat. Gubernur Mualem dan YPM Wali Nanggroe sangat mendukungnya. “Kami tau ada segelintir orang yang berupaya supaya Mubes ini tidak sukses. Kami sudah paham itu,” ungkap salah seorang peserta.
Ditanya bagaimana tentang kepemimpinan MAA kedepan, sumber itu mengatakan sudah sepakat memilih Prof Yusri Yusuf. “Kalau perlu Prof Yusri aklamasi. Kami sudah melihat kerjanya selama jadi pengganti antar waktu cukup bagus. Secara pribadi juga punya akhlak dan moral. Beliau tak pernah cacat dalam kehidupannya,” ungkap salah srorang peserta dari pantai barat selatan.
Prof. Yusri Yusuf merupakan ketua MAA saat ini yang terpilih untuk masa sisa waktu 2021 – 2026, dikukuhkan oleh Wali Nanggroe, awal September 2026, selain itu, Yusri Yusuf pernah menjadi Kepala Sekretariat MAA dan pernah menjadi Wakil Rektor Ikatan Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.(*)




