Sigli, JBA – Minggu, (27/9) Sebanyak 600 siswa dari tiga sekolah menengah atas di Kabupaten Pidie mengikuti kegiatan bakti sosial yang menggabungkan edukasi pendidikan, kesehatan, dan penggunaan obat yang benar yang diselenggarakan oleh Departemen Farmasi FMIPA Universitas Syiah Kuala. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMA Negeri Unggul Sigli, SMA Negeri 2 Sigli, dan SMA Negeri Ulumul Quran Sigli.
Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan kepada para siswa mengenai pendidikan di bidang farmasi, ruang lingkup keilmuan farmasi, serta berbagai peluang dan bidang kerja yang dapat ditekuni oleh lulusan farmasi dan profesi apoteker.
Kegiatan ini turut melibatkan sejumlah alumni S1 Farmasi Universitas Syiah Kuala (USK), yaitu apt. Chairunnisa, S.Farm., M.Farm.Klin., apt. Shara Yunita, S.Farm., dan apt. Naja Nafisa, S.Farm. Ketiganya juga merupakan alumni SMA Negeri Unggul Sigli yang kini telah berkiprah di berbagai bidang pelayanan dan pendidikan kefarmasian, baik sebagai dosen maupun apoteker yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas. Kehadiran para alumni tersebut memberikan nilai tersendiri bagi kegiatan karena para siswa dapat memperoleh gambaran langsung mengenai perjalanan pendidikan, profesi, serta peluang karier di bidang farmasi dari alumni sekolah mereka sendiri.
Selain pengenalan pendidikan dan dunia kerja kefarmasian, para siswa juga mendapatkan edukasi mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penggunaan obat yang aman dan bertanggung jawab melalui konsep DAGUSIBU, yaitu Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar.
Melalui edukasi DAGUSIBU, siswa diperkenalkan dengan prinsip-prinsip dasar penggunaan obat yang rasional, mulai dari pentingnya memperoleh obat dari sarana yang resmi, menggunakan obat sesuai aturan, menyimpan obat dengan benar agar mutu dan keamanannya tetap terjaga, hingga cara membuang obat yang sudah rusak atau kedaluwarsa dengan tepat.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan narasumber para dosen dari Departemen FarmasI FMIPA USK dan mendapat respons positif dari para siswa. Antusiasme terlihat dari keterlibatan peserta dalam sesi diskusi, tanya jawab, serta keingintahuan mereka mengenai pendidikan tinggi di bidang farmasi dan peran tenaga kefarmasian dalam pelayanan kesehatan.
Perwakilan kepala sekolah dari sekolah yang menjadi lokasi kegiatan menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan bakti sosial tersebut.
«“Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini karena memberikan pengetahuan yang langsung bermanfaat bagi siswa. Mereka tidak hanya mendapatkan informasi mengenai pilihan pendidikan dan dunia kerja setelah menyelesaikan sekolah, tetapi juga memperoleh pemahaman tentang kesehatan serta bagaimana menggunakan dan memperlakukan obat secara benar. Kehadiran para alumni yang telah berhasil menempuh pendidikan dan berkarier di bidang farmasi juga dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para siswa. Kami berharap kegiatan edukatif seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak pelajar.”»
Dekatkan Dunia Kampus dengan Pelajar
Ketua Panitia kegiatan, Sadli, ST., M.Si., mengatakan bahwa bakti sosial ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sebagai ruang berbagi pengetahuan kepada generasi muda.
«“Kami ingin menghadirkan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh siswa. Melalui kegiatan ini, mereka memperoleh gambaran mengenai pendidikan farmasi dan prospek kerjanya, sekaligus mendapatkan pengetahuan praktis mengenai pola hidup bersih dan sehat serta penggunaan obat yang benar melalui DAGUSIBU. Harapannya, pengetahuan tersebut juga dapat mereka sampaikan kembali kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujar Sadli.»
Menurutnya, pemahaman mengenai penggunaan obat sebaiknya mulai diperkenalkan sejak usia sekolah. Hal ini penting karena obat merupakan bagian yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, sementara penggunaannya tetap membutuhkan pengetahuan yang benar agar memberikan manfaat dan mengurangi risiko penggunaan yang tidak tepat.
Literasi Kesehatan Perlu Dibangun Sejak Sekolah
Ketua Departemen Farmasi, Tedy Kurniawan Bakri, M.Farm., Apt., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi untuk mendekatkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, khususnya kepada generasi muda.
«“Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat strategis untuk membangun literasi kesehatan. Kami ingin para siswa tidak hanya mengenal farmasi sebagai pilihan pendidikan dan profesi, tetapi juga memahami bahwa ilmu farmasi memiliki peran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam memastikan obat digunakan secara tepat, aman, dan bertanggung jawab,” kata Tedy.»
Ia menambahkan bahwa keterlibatan alumni dalam kegiatan seperti ini juga penting untuk menunjukkan kepada para siswa bahwa pendidikan yang mereka tempuh dapat membuka berbagai peluang pengabdian dan karier di masa depan.
«“Kehadiran alumni yang kembali ke sekolahnya untuk berbagi pengalaman merupakan hal yang sangat positif. Para siswa dapat melihat secara langsung bagaimana proses pendidikan yang ditempuh dapat membawa seseorang berkiprah sebagai dosen, apoteker rumah sakit maupun apoteker di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Kami berharap hal ini dapat memberikan inspirasi sekaligus memperluas wawasan siswa dalam merencanakan pendidikan dan karier mereka,” lanjutnya.»
Menurut Tedy, pengenalan pendidikan farmasi kepada siswa diharapkan dapat memperluas wawasan mereka dalam menentukan pilihan pendidikan setelah menyelesaikan jenjang sekolah menengah.
«“Farmasi bukan hanya berbicara tentang obat di apotek, tetapi mencakup pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, industri farmasi, penelitian dan pengembangan, regulasi, distribusi, hingga berbagai bidang lain yang terus berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tambahnya.»
Tingginya antusiasme sekitar 600 siswa yang mengikuti rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dengan pendekatan yang komunikatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat diterima dengan baik oleh kalangan pelajar.
Mendukung SDGs Bidang Kesehatan dan Pendidikan
Pelaksanaan bakti sosial di tiga sekolah tersebut juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas).
Kontribusi terhadap SDG 3 diwujudkan melalui peningkatan literasi kesehatan, edukasi PHBS, serta pemahaman penggunaan dan pengelolaan obat secara benar melalui DAGUSIBU. Sementara itu, dukungan terhadap SDG 4 diwujudkan melalui pemberian akses informasi dan edukasi kepada siswa mengenai pendidikan tinggi, ilmu kefarmasian, serta perkembangan dan peluang profesi di bidang farmasi.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para siswa tidak hanya memperoleh tambahan wawasan mengenai pilihan pendidikan dan karier, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang lebih sadar terhadap kesehatan serta mampu menggunakan obat secara tepat dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan bakti sosial yang menjangkau sekitar 600 siswa di SMA Negeri Unggul Sigli, SMA Negeri 2 Sigli, dan SMA Negeri Ulumul Quran Sigli tersebut diharapkan menjadi salah satu bentuk sinergi antara dunia pendidikan tinggi, alumni, dan sekolah dalam meningkatkan literasi pendidikan dan kesehatan generasi muda.




