Banda Aceh, JBA – Literasi menjadi salah satu kunci penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan. Pesan tersebut disampaikan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Regina Rahmi, M.Amin, saat bertindak sebagai pembina upacara di SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh.
Dalam amanatnya, Regina mengajak para siswa untuk memaknai literasi secara lebih luas, tidak hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan memahami kehidupan, menganalisis informasi, berpikir kritis, dan membangun karakter. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kemampuan literasi yang kuat agar mampu menghadapi perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di era modern.
Menariknya, Regina menghubungkan pentingnya literasi dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni perintah Iqra yang berarti bacalah. Ia mengajak siswa memahami bahwa pesan tersebut memiliki makna mendalam bagi setiap orang yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas kehidupan.
Di hadapan peserta upacara, Regina mengajukan pertanyaan reflektif, “Mengapa Nabi Muhammad SAW menggigil ketika Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama?”
Pertanyaan itu menjadi pengantar untuk mengajak siswa memahami besarnya tanggung jawab yang menyertai turunnya wahyu dan tugas kenabian.
Regina menjelaskan bahwa pengalaman tersebut dapat direnungkan sebagai gambaran betapa agung dan beratnya amanah yang diterima Rasulullah SAW untuk membimbing umat manusia.
Ia mengaitkan penjelasannya dengan Surah Al-Muzzammil ayat 5 yang menyebutkan bahwa Allah akan menurunkan perkataan yang berat. Amanah untuk menyampaikan risalah, menghadapi penolakan, serta membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik merupakan tanggung jawab spiritual dan moral yang sangat besar.
Regina menegaskan bahwa perintah Iqra tidak semata-mata berarti membaca tulisan. Lebih jauh, manusia diajak untuk membaca realitas kehidupan, mengamati alam semesta, memahami penciptaan manusia, dan menganalisis persoalan sosial dengan menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai landasan. Prinsip Bismi Rabbika mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan dengan kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah.
“Literasi bukan hanya tentang membaca buku, melainkan juga bagaimana kita memahami informasi, menilai kebenaran, mengambil keputusan, dan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” ungkap Regina.
Ia juga mengingatkan siswa agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan pemeriksaan. Kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab menjadi bekal penting untuk menjadi generasi yang cerdas dan berdaya saing.
Selain membahas literasi, Regina memberikan motivasi melalui materi “Membangun Tangga Sukses”.
Ia mengibaratkan kesuksesan sebagai tangga yang harus dibangun dengan persiapan, usaha, dan fondasi yang kuat. Untuk itu, terdapat lima kekuatan utama yang perlu dikembangkan oleh generasi muda, yaitu networking, teamwork, critical thinking, IT skills, dan character.
Pertama, networking diibaratkan sebagai pasir yang mengisi ruang dan menghubungkan bagian-bagian bangunan.
Kemampuan membangun relasi positif dapat memperluas wawasan dan membuka berbagai peluang untuk belajar serta berkembang.
Kedua, teamwork diibaratkan sebagai batu bata. Sebagaimana batu bata yang disusun bersama membentuk bangunan kokoh, kerja sama mengajarkan siswa untuk saling mendukung, menghargai perbedaan, dan mencapai tujuan bersama.
Ketiga, critical thinking diibaratkan sebagai semen yang menyatukan seluruh bagian bangunan. Keterampilan ini membantu siswa menganalisis persoalan, memecahkan masalah, menyampaikan pendapat, serta mengembangkan kemampuan berbicara di depan publik atau public speaking.
Keempat, IT skills diibaratkan sebagai besi yang memperkuat struktur bangunan. Penguasaan teknologi informasi diperlukan agar siswa mampu memanfaatkan perkembangan digital untuk belajar, berkarya, dan berinovasi.
Kelima, character diibaratkan sebagai air yang membantu berbagai bahan menyatu. Regina menekankan bahwa ilmu dan teknologi harus disertai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesantunan, serta kepedulian sosial.
“Bangunlah tangga kesuksesan mulai hari ini. Naiki setiap anak tangga dengan ilmu, pengalaman, kolaborasi, teknologi, dan karakter. Masa depan bukan sekadar ditunggu, tetapi dibangun melalui usaha dan pilihan yang kita lakukan sekarang,” pesannya kepada para siswa.
Kepala SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh, Khairurrazi, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada UBBG atas berbagai prestasi dan capaian yang telah diraih. Ia juga mengapresiasi kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan motivasi dan wawasan kepada peserta didik melalui kegiatan pendidikan.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat hubungan kelembagaan antara UBBG dan SMA Negeri 16 Kota Banda Aceh.
Kedua institusi telah menjalin kerja sama dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Kerja sama tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakat melalui keterlibatan perguruan tinggi dan sekolah.
Regina menyampaikan terima kasih kepada Kepala SMA Negeri 16 beserta seluruh keluarga besar sekolah atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan kepadanya untuk menjadi pembina upacara. Ia berharap kemitraan yang telah terjalin dapat terus dikembangkan melalui berbagai program kolaboratif yang memberikan manfaat nyata bagi guru, siswa, dosen, dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, UBBG menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam penguatan literasi, pengembangan karakter, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Generasi muda diharapkan tidak hanya mampu mengikuti perubahan zaman, tetapi juga memiliki kecakapan berpikir, kematangan karakter, serta kepedulian terhadap lingkungan dan budaya sebagai bekal membangun masa depan bangsa.




