Abu Teuming: Libatkan Allah untuk Awetkan Pernikahanmu

Jantho, JBA – Penyuluh Agama Islam KUA Baitussalam, Amiruddin mengatakan pernikahan tidak selalu dipenuhi rentetan kebahagian dan jutaan kemesraan. Kebahagian akan datang bersamaan dengan kesedihan, kerena, setiap pasangan punya potensi bahagia dan berpeluang sengsara.

“Kesengsaraan dan kepahitan hidup rumah tangga sebenarnya dapat diatasi, dengan cara melibatkan Allah dalam setiap sendi kehidupan. Setiap apa pun yang dilakukan wajib melibatkan Allah. Ketika ada masalah dalam hubungan suami dan istri, Allah wajib dilibatkan serta mesti ada empati dalam hati keduanya. Tanpa empati, saling sayang dan perhatian, pertengkaran suami dengan istri sulit ada titik temu, menuju damai dalam cinta,” jelas pria yang biasa disapa Abu Teuming saat bimbingan calon pengantin, di KUA Baitussalam, Aceh Besar, Selasa, 28 April 2026.

Abu Teuming menjelaskan cinta dan sayang pun harus memiliki dasar yang kuat, alias tebal. Dasar adanya cinta dan sayang dengan level terkuat adalah cinta karena Allah. Alasan logisnya, cinta bisa kuat jika sikap dan karakter terpuji ada pada masing-masing pasangan. Lembut tutur kata, tidak egois, sikap santun dan tidak memandang pasangan dengan hina, tentu hal ini akan membawa pada lahir benih cinta dan saying super kuat. Dampaknya, saat terjadi konflik rumah tangga, kekuatan cinta dan sayang mampu menenggelamkan benih-benih konflik sehingga yang tersisa di permukaan tetap cinta dan sayang. Sementara sumber konflik yang kecil dan tipis telah terkubur dalam-dalam.

Saat kekuatan cinta dan sayang menghembuskan energi, tegas Abu Teuming, yang terjadi hanya keinginan untuk terus bersama tanpa ada kata pisah. Itu sebab, miliki dan tumbuhkan dasar cinta yang kuat melalui sikap santun, lembut tutur kata, dan penuh kasih sayang. Catatan penting yang harus diingat bahwa “Cinta itu datang dari mata turun ke hati”. Lumrahnya, manusia lawan jenis saling kenal, baik kenal fisik, kenal sifat, dan kenal lingkungan. Perkenalan itu pasti lewat mata, yang kemudian menembus hati, yang disebut cinta.

Sebaliknya, sayang dan cinta jangan terlalu tipis, setipis tisu karena mudah retak. Sikap kasar, tidak sopan, tutur kata tidak menyejukkan, apalagi sifat malas dalam menunaikan hak masing-masing, maka latar belakang tersebut akan bermuara pada hilangnya cinta dan redupnya rasa sayang pada pasangan. Kondisi inilah yang disebut dasar cinta setipis tisu.

“Suami dan istri patut menyadari bahwa Allah sangat suka pada hamba yang membutuhkan-Nya. Allah suka pada orang yang melibatkan-Nya meskipun dalam perkara kecil. Sementara perkara besar, sudah sewajibnya melibatkan Allah, sebab tanpa bantuan Allah, persoalan yang dihadapi manusia tidak akan mudah,” pungkas Redaktur Suluhagama ini.

Sebenarnya, bukan Allah enggan membantu orang yang tidak melibatkan-Nya. Hanya saja Sang Pemilik Kasih Sayang ingin selalu bersama hamba dalam setiap perbuatan mereka. Tanpa Allah, manusia tidak ada apa-apanya. Tanpa melibatkan Allah, pernikahan tidak akan memberikan makna lebih luas, artinya jauh dari sakinah mawaddah dan rahmah.

Menurut Abu Teuming, melibatkan Allah itu wajib. Ada kekuatan luar biasa yang akan datang saat manusia sungguh-sunguh mengharapkan campur tangan Allah. Libatkan Allah dalam urusan rumah tangga. Allah bisa mengubah segalanya, mampu mengubah yang mustahil menjadi mungkin, bahkan jadi nyata. Mampu mengubah yang benci jadi cinta, yang cinta bisa jadi bertahan dalam ikatan suci pernikahan.

“Ikhtiar suami dan istri bisa jadi sudah sangat bagus. Tapi ketika Allah tidak dilibatkan, maka ikhtiar itu tidak sempurna. Setidaknya, libatkan Allah dalam doa, mohon petunjuknya, dan ikuti pedoman dalam kitab-Nya,” jelas fasilitator bimbingan perkawinan ini.

Melibatkan Allah dalam persoalan rumah tangga ada beragam cara, misal berdoa, salat, dan segala bentuk ketaatan adalah bagian dari keterlibatan Allah dalam urusan suami dan istri. Persoalan rumah tanga yang melibatkan Allah akan lebih berkah, memberikan ketenangan, dan kebaikan lainnya.

Terkadang, sebut Abu Teuming, Allah selalu dilibatkan setiap ada dinamika rumah tangga, namun pintu perceraian tidak bisa tutup. Dalam kondisi dekimian, meskipun harus berpisah, setidaknya ada kebaikan dibalik putusnya hubungan pernikah, seperti tetap punya komitmen menjaga anak atau tetap mempertahankan silaturhami antarkeluarga pasangan yang sudah terjalin sejak akad nikah terucapkan.

Tanpa Allah, suami dan istri pasti tidak mampu. Saat konflik rumah tangga memuncak dan emosi tidak terkedali, sangat rentan terjadi aksi negatif seperti memukul pasangan atau mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakitkan serta membangkit amarah lawan bicara. Seandainya Allah dilibatkan, meski konflik memuncak, tentu merka tidak berkata kotor dan menyakitkan pasangan, sebab ia berada dalam pengawasan Allah dan Allah terlibat dalam urusannya.

Konflik rumah tangga terkadang amat sulit dilerai dengan berbagai dalih. Sebenarnya, kesulitan apa pun dapat diatasi jika mereka meyakinkan bahwa melibatkan Allah adalah pilihan terbaik dalam setiap masalah suami dan istri. Dalam kesulitan, bisa datang pertolongan Allah melalui doa yang selalu dipanjatkan kala hidup sulit. Dalam Islam telah banyak dinarasikan bahwa doa adalah senjata bagi orang Islam.

“Kita tahu bahwa doa senjatanya umat Islam,” pungkas mahasiswa Magister Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Aceh ini.

Ia menegaskan ketika suami dan istri melibatkan Allah saat cek cok rumah tangga, bukan pertanda mereka lemah, tapi bukti nyata bahwa Allah lebih kuat dan punya energi besar yang bisa datang dari arah tanpa disangka-sangka. Setiap kebaikan adalah rezeki yang datang dari bermacam arah. Jadi rezeki bukan semata tentang uang.

BERITA MINGGUAN

TERBARU

BERITA TERHANGAT

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA TERKAIT